
ORIDISTRO
Your Criminal Partners
Wednesday January 21st, 2026
Sebuah konstelasi baru muncul.
STARGLOW, grup tari dan vokal beranggotakan lima orang yang lahir dari proyek audisi BMSG, THE LAST PIECE, resmi debut dengan single pertama mereka, “Star Wish”.
Jauh dari tipikal boy band, STARGLOW dibentuk untuk memikat. Dengan visual yang memukau, insting musik yang tajam, dan karisma yang mudah terlihat baik di atas maupun di luar panggung, mereka telah muncul sebagai idola generasi baru yang patut diperhatikan.
Terdiri dari RUI, TAIKI, KANON, GOICHI, dan ADAM, grup ini hadir dengan momentum yang sudah kuat, setelah memberikan kesan pertama yang eksplosif di dunia musik.
Pada September 2025, single pra-debut STARGLOW, “Moonchaser”, debut di peringkat #7 Billboard JAPAN Hot 100, menandai munculnya grup yang didefinisikan oleh keterampilan, kehadiran, dan ambisi. Kini, dengan “Star Wish”, STARGLOW mengambil langkah resmi pertama mereka, mempertajam identitas mereka dan menetapkan arah mereka dengan jelas dan percaya diri.
Lagu utama “Star Wish” ditulis bersama oleh SKY-HI, bersama dengan penulis lagu, produser, dan artis asal Los Angeles, David Arkwright, yang dua kali dinominasikan untuk Grammy Award, dan artis solo Will Jay. Dengan lirik yang ditulis oleh SKY-HI, lagu ini menangkap cinta yang singkat dan penuh pertaruhan, diungkapkan melalui baris-baris yang mendambakan momen yang abadi dan menyatakan pengabdian pada mimpi yang akhirnya dalam jangkauan.
Dibangun di atas lanskap suara yang emosional namun halus, “Star Wish” menyalurkan tekad dan kerinduan terhadap bintang yang bersinar di kejauhan. Lagu ini menyeimbangkan kehalusan dengan intensitas, memungkinkan vokal STARGLOW yang bersemangat dan kekuatan individu mereka untuk berkembang sepenuhnya. Ini adalah debut yang terasa intim sekaligus luas, memperkenalkan sebuah grup yang tidak takut untuk bersikap tulus, ekspresif, dan berani.
Dengan “Star Wish”, STARGLOW tidak sekadar debut. Mereka hadir siap mencuri hati, menarik perhatian, dan menciptakan jalan mereka sendiri. Ini adalah cahaya pertama dari sebuah grup yang baru memulai, dan semua tanda menunjukkan arah yang cerah.
Tentang STARGLOW
Dibentuk melalui proyek audisi BMSG “THE LAST PIECE”, STARGLOW adalah grup tari dan vokal beranggotakan lima orang yang terdiri dari RUI, TAIKI, KANON, GOICHI, dan ADAM.
Sebagai boy band yang menggabungkan gaya individu yang terdefinisi dengan jelas menjadi perpaduan yang langka dan hampir ajaib, setiap anggota terus menyempurnakan keunikan mereka sendiri sambil menciptakan sesuatu yang lebih besar secara keseluruhan. Dari kualitas dan sikap mereka yang luar biasa hingga karisma dan aura yang tak terlukiskan, STARGLOW mewujudkan cita-cita dan visi musik yang telah dijunjung tinggi oleh BMSG sejak didirikan. Seperti meraih bintang yang tak terjangkau, mereka terus mengejar mimpi-mimpi berskala epik.
Dan sekarang, setelah turun ke dunia ini sebagai mereka yang bersinar, mereka bertekad untuk mewujudkan mimpi terbesar dari semuanya.
oridistro.com
shop.mu-mo.net/avx/sv/list1?artist_id=STGLW
#Avex
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
shop.mu-mo.net
STARGLOWの商品(CD・DVD・グッズ)になります。mu-moショップでは、オフィシャルならではの、オリジナル特典付きレア・限定グッズを通販いただけます。Wednesday January 21st, 2026
Dony Manurung Rilis “Chimera (SmolChaos)”, Lagu Instrumental Eksperimental Sarat Mitologi dan Eksplorasi Bunyi.
Musisi dan komposer eksperimental Dony Manurung kembali menghadirkan karya berani melalui single instrumental terbarunya berjudul “Chimera (SmolChaos)”. Lagu ini menjadi ruang eksplorasi bebas yang mempertemukan imajinasi mitologis, eksperimen sonik, serta kolaborasi lintas karakter musik.
Dalam karya ini, Dony Manurung berkolaborasi dengan Ade Avery, gitaris session ternama Indonesia yang dikenal melalui kontribusinya bersama musisi papan atas seperti Isyana Sarasvati, Raisa, serta sebagai personel band AIB. Kolaborasi ini menghasilkan dinamika musikal yang intens dan penuh warna.
“Chimera (SmolChaos)” memadukan beragam elemen musik — electronic, rock, jazz, hingga nuansa arabic — yang dirangkai menjadi lanskap bunyi liar dan tak terduga. Lagu ini terinspirasi dari mitologi Yunani tentang Bellerophon dan pertarungannya melawan makhluk legendaris Chimera, simbol kekacauan, kekuatan, dan konflik batin.
Eksplorasi khas Dony Manurung menghadirkan atmosfer eksperimental yang penuh ketegangan dan kejutan, seolah membawa pendengar masuk ke dalam arena pertempuran mitologis. Di sisi lain, permainan gitar Ade Avery menyuntikkan energi rock yang agresif, sentuhan funk yang ritmis, serta improvisasi yang memperkaya tekstur musikal secara keseluruhan.
Tanpa vokal dan tanpa batasan genre, “Chimera (SmolChaos)” menjadi sebuah narasi musikal yang mengajak pendengar menafsirkan kisahnya sendiri. Lagu ini menegaskan komitmen Dony Manurung dalam mengeksplorasi musik sebagai medium cerita, emosi, dan kebebasan artistik.
Single “Chimera (SmolChaos)” kini telah tersedia dan siap dinikmati oleh pendengar yang haus akan pengalaman musik instrumental yang unik, berani, dan penuh imajinasi.
oridistro.com
music.youtube.com/watch?v=wnV5jBv68DI
#DonyManurung
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
CHIMERA (smol chaos) (feat. Adeavery) – YouTube Music
music.youtube.com
Provided to YouTube by DistroKid CHIMERA (smol chaos) (feat. Adeavery) · Dony Manurung · Adeavery · Ade Avery CHIMERA (smol chaos) (feat. Adeavery) ℗ Dony…Wednesday January 21st, 2026
Album studio “Not To Disappear” milik Daughter genap berusia 10 tahun tahun ini. Untuk merayakan momen tersebut, trio Elena Tonra, Igor Haefeli, dan Remi Aguilella membagikan sebuah lagu baru berjudul ‘Not Enough’.
Awalnya ditulis dan dibuat dalam bentuk demo saat sesi pembuatan album “Not To Disappear”, lagu ‘Not Enough’ akhirnya direkam pada November 2025 di studio Total Refreshment, London. Lagu ini diproduseri oleh Igor Haefeli dan di-mixing oleh Nicolas Vernhes.
Band ini menjelaskan:
“‘Not Enough’ sebenarnya tidak menemukan tempatnya di album “Not To Disappear,” tetapi kami selalu menyukainya—kami bahkan sempat memainkannya secara live beberapa kali sebelum akhirnya kembali menjadi demo yang tersimpan di hard drive. Untuk menandai ulang tahun ke-10 album tersebut, kami ingin kembali menelusuri benang-benang yang belum selesai dari era itu. Pada November 2025, kami akhirnya kembali berkumpul di London dan merekam ‘Not Enough’ bersama-sama di studio. Sekarang kami tinggal di tempat yang berbeda-beda, dan beberapa karya terbaru kami dibuat jarak jauh, jadi proses ini terasa seperti kembali ke masa lalu.”
Diproduseri oleh Igor Haefeli dan bersama Nicolas Vernhes (Deerhunter, Animal Collective, War On Drugs), album “Not To Disappear” direkam pada musim panas 2015 di studio Rare Book Room milik Vernhes di Greenpoint, Brooklyn. Album ini dirilis pada Januari 2016 dan langsung debut di 20 besar tangga album Inggris, diikuti dengan tur Daughter sebagai penampil utama di Amerika Selatan, Amerika Utara, Australia, dan Asia. Tahun yang gemilang tersebut ditutup dengan penampilan di hadapan penonton yang terjual habis di O2 Academy Brixton, London.
Dibentuk pada 2010 di London, Daughter pertama kali dikenal lewat EP mandiri mereka, “His Young Heart” dan “The Wild Youth”. Setelah bergabung dengan label 4AD, mereka merilis dua album yang masuk 20 besar tangga lagu, yaitu “If You Leave” (2013) dan “Not To Disappear“ (2016).
Setahun kemudian, trio ini merilis “Music From Before the Storm”, musik orisinal untuk game “Life Is Strange: Before The Storm”, yang mengantarkan mereka pada nominasi Ivor Novello pertama mereka.
Proyek solo Elena Tonra, “Ex:Re”, dirilis pada 2018 melalui album debut bertajuk sama yang direkam di studio basement 4AD di London. Setelah meninggalkan basis awal mereka di London—Aguilella pindah ke Portland, Oregon, dan Haefeli ke Bristol, Inggris—Daughter kembali pada 2023 dengan album “Stereo Mind Game”.
oridistro.com
music.apple.com/us/album/not-enough-single/1862860633
#Daughter
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Wednesday January 21st, 2026
Setelah melalui proses kreatif selama lima tahun, Flowr Pit akhirnya merilis album debut penuh berjudul Super Possible melalui Kolibri Rekords. Album ini merupakan kumpulan sepuluh lagu yang terbagi dalam dua bagian yang mencerminkan perjalanan emosional Alfath Arya Nugraha, otak di balik Flowr Pit.
Sebagai fokus utama, "Tenggelam" menjadi lagu yang punya andil tersendiri. Ditulis di masa pandemi, lagu berbahasa Indonesia ini justru menjadi momentum yang memantapkan niat Alfath untuk menyelesaikan album ini. Lagu ini bicara tentang rencana hidup lima tahunan yang kerap terlalu optimis di tengah masa depan yang tak pasti, dan bagaimana kita bisa "tenggelam" dalam angan-angan sendiri.
"Album ini adalah kumpulan dari semua yang saya rasakan, dengar, dan pahami pada suatu momen dalam hidup," jelas Alfath tentang Super Possible. "Ini cara saya bercerita, menyampaikan perasaan, bahkan melepaskan emosi—tidak peduli kedengarannya tidak serius bagi orang lain. Pandemi 2020 menjadi titik balik untuk mulai menulis, dan proses bolak-balik rekaman dan pasca-produksi selama lima tahun ini adalah kurva pembelajaran yang saya hargai selamanya. Album ini mungkin tidak terdengar sempurna bagi semua orang, tapi ia sempurna bagi saya. Pada akhirnya, inilah bukti bahwa semua ini super possible."
Super Possible menampilkan perkembangan sound Flowr Pit dari single sebelumnya seperti "Oh Frances!" dan "Air". Album ini menawarkan perpaduan antara elemen indie-rock dan aransemen yang lebih atmosferik dan sinematis, dengan lirik-lirik personal dan reflektif, yang di antaranya juga kini Alfath coba tulis dalam bahasa Indonesia.
Tracklist:
1. Act I: What a Time to be Alive!
2. Oh Frances!
3. TNT
4. Coming of Age
5. Nothing To Recall
6. Act II: Faces of Death
7. Air
8. Tenggelam
9. Tiba Waktunya
10. Selamanya
Tentang Flowr Pit
Flowr Pit adalah moniker dari Alfath Arya Nugraha: penulis lagu, produser, sekaligus otak di balik proyek ini. Bukan lagi college rock, kini ia memasuki usia 30-an dengan lagu-lagu yang masih lekat dengan nostalgia namun menolak terdengar usang. Super Possible (2026, Kolibri Rekords) menjadi album debutnya.
oridistro.com
www.kkbox.com/sg/en/album/GsiPok_jG1L3GWzhY6
#FlowrPit
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersThe album Super Possible of Flowr Pit is here. Come enjoy at KKBOX! … See MoreSee Less
Wednesday January 21st, 2026
Musisi asal Seoul, HOA, resmi mengumumkan tur Asia bertajuk REVERIE yang akan digelar di delapan kota sepanjang akhir Januari hingga Februari. Tur ini akan dimulai dari Seoul, sebelum berlanjut ke berbagai kota di Asia Tenggara, Taiwan, dan Jepang.
Lewat tur REVERIE, HOA menghadirkan rangkaian pertunjukan live yang lebih intim dan personal. Setiap penampilan dirancang untuk menonjolkan karakter musikal HOA yang melodius, dengan pendekatan panggung yang sederhana namun bermakna, memberikan pengalaman mendengarkan yang dekat dan hangat bagi para penonton.
Musik HOA kerap disebut memiliki kehangatan khas era 1960-an yang mengingatkan pada karya-karya awal The Beatles. Sentuhan tersebut berpadu dengan pendekatan indie modern, menghasilkan lagu-lagu yang terasa akrab, namun tetap relevan dengan pendengar masa kini.
Sesuai dengan judulnya, REVERIE menggambarkan renungan melayang dan refleksi emosional. Alih-alih mengandalkan produksi berskala besar, tur ini lebih menekankan atmosfer, detail musikal, serta hubungan organik antara musik dan audiens di setiap kota.
Seiring konsistensinya tampil di berbagai tur dan showcase di Asia serta Eropa, HOA terus memperkuat kehadirannya di panggung internasional. Tur Asia REVERIE menjadi langkah lanjutan dalam memperluas jangkauan tersebut, sekaligus membuka babak baru untuk aktivitas global HOA ke depan.
Untuk penggemar di Indonesia, HOA dijadwalkan tampil di Jakarta pada 5 Februari 2026 di MINQ.
HOA – REVERIE Asia Tour
● 31 Januari – Seoul, Korea Selatan @ Tone Studio
● 3 Februari – Singapura @ Room526
● 5 Februari – Jakarta, Indonesia @ MINQ
● 7 Februari – Kuala Lumpur, Malaysia @ Live Fact
● 10 Februari – Bangkok, Thailand @ Blue Print
● 12 Februari – Taipei, Taiwan @ Revolver
● 21 Februari – Okinawa, Jepang @ Sound M’s
● 23 Februari – Okinawa, Jepang @ 224 Festival
Tentang HOA
HOA adalah musisi asal Seoul yang musiknya berakar pada kepekaan pop klasik dan penulisan lagu indie yang introspektif. Dengan karakter suara yang kerap dikaitkan dengan kehangatan melodi era 1960-an, HOA terus memperluas kiprahnya di kancah internasional melalui tur live, penampilan di festival, serta kolaborasi lintas negara.
Langkah HOA ke panggung internasional dimulai lewat penampilan di Lalala Festival, yang menjadi titik balik penting dalam perjalanan kariernya. Sejak itu, HOA mulai mendapatkan perhatian yang lebih luas di berbagai negara Asia, menandai awal dari kehadiran internasional yang terus berkembang.
oridistro.com
www.instagram.com/p/DTc7P-lD5-G/
#HOA
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Wednesday January 21st, 2026
Penyanyi dan penulis lagu, Canti, akhirnya kembali dengan single terbarunya yang bertajuk ‘Anggap Aku Ada’. Lagu ini bernuansa R&B yang hangat dan intim serta mengangkat tema tentang jarak emosional dalam sebuah hubungan. Berbeda dengan rilisan sebelumnya, ‘Anggap Aku Ada’ jadi salah satu karya paling personal Canti dalam perjalanan menuju album terbarunya. ‘Anggap Aku Ada’ lahir dari situasi yang kerap terasa akrab, ketika seseorang masih hadir secara fisik namun perlahan terasa menjauh secara emosional. Tanpa konflik besar atau perpisahan yang dramatis. Lagu ini berhasil menangkap rasa kehilangan yang datang diam-diam, terasa sunyi namun tetap membekas.
“Dia sebenarnya ada di depan mata, tapi rasanya jauh,” ungkap Canti bercerita tentang kisah dibalik lagu ini. “Lagu ini ceritanya tentang jarak yang ga kelihatan,” tambahnya. Secara musikalitas, ‘Anggap Aku Ada’ dibalut dengan aransemen R&B yang tenang namun terdengar bersih sembari memadukan instrumen organik dengan groove yang subtle. Pendekatan ini justru memberi ruang bagi vokal Canti untuk terdengar jujur dan ekspresif dalam menyampaikan rasa rindu, bingung sekaligus lelah secara emosional tanpa perlu terasa berlebihan.
Lagu ditulis bersama Agustin Oendari dengan Ivan Gojaya sebagai produser sekaligus penata musik, serta Mohammed Kamga yang turut terlibat sebagai vocal director. Kolaborasi inilah yang akhirnya mampu menghadirkan karya Canti yang terasa matang dan personal, sekaligus memperkuat posisinya di ranah R&B Indonesia yang kontemporer. Melalui ‘Anggap Aku Ada’, Canti terus melanjutkan eksplorasinya sebagai storyteller yang tetap menempatkan emosi sebagai pusat karya-karyanya. Lagu ini jadi bagian penting dari fase bermusik Canti yang semakin reflektif dan berani jujur untuk menuju sebuah album yang utuh dan personal. Simak single terbaru Canti, ‘Anggap Aku Ada’ yang telah dirilis di seluruh digital streaming platform di Indonesia.
oridistro.com
music.apple.com/us/album/anggap-aku-ada-single/1861724573
#Canti
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Wednesday January 21st, 2026
TANJUNG, moniker dari musisi multi-instrumentalis Faishal Tanjung, resmi merilis album terbarunya bertajuk Levitasi. Album ini menjadi fase penting dalam perjalanan musikal TANJUNG yaitu sebuah refleksi personal tentang pencarian makna di usia 26, mulai dari spiritualitas, cinta, hingga hubungan dengan dunia di sekitarnya.
Tidak disusun sebagai narasi linear, Levitasi terasa seperti membuka lembar-lembar terpilih dari jurnal hidup TANJUNG. Album ini dibangun melalui vokal berlapis yang bergema, nuansa psikedelik yang tekstural, distorsi gitar yang rapuh namun hangat, ritme drum yang stabil, serta synth yang membungkus dengan rasa intim. Keseluruhan elemen tersebut menghadirkan potret pertumbuhan, rasa ingin tahu, dan proses penemuan diri yang jujur.
Bagi TANJUNG, album ini lahir dari fase hidup yang penuh keraguan. Ia menyadari bahwa banyak hal dalam hidup bersifat sementara dan hanyalah titipan. Pemahaman tersebut menjadi fondasi dari Levitasi, yang secara harfiah ia maknai sebagai kondisi mengambang, tanpa arah yang pasti.
“Waktu mengerjakan album ini, aku penuh dengan rasa ragu di banyak aspek hidup. Tapi lewat Levitasi, aku belajar bahwa merasa hilang arah itu tidak apa-apa. Semua akan berlalu,” ungkap TANJUNG. Kini, meski keraguan masih datang, ia mengaku berada di fase yang lebih ikhlas dan bertawakal.
Lagu “Salahkah?” yang menampilkan kolaborasi dengan Mattermos dipilih sebagai focus track karena paling merepresentasikan isi album secara jujur dan lugas. Secara lirik, lagu ini menjadi medium TANJUNG untuk mempertanyakan mimpi dan cita-cita yang masih ia kejar. Potongan lirik “lama ku tunggu hari ku akan tiba” merefleksikan pencarian tersebut, sebuah pertanyaan yang belum memiliki jawaban pasti, namun terus diperjuangkan.
“Selama kita terus mencoba mengejar mimpi itu, menurutku tidak ada salahnya,” tambahnya.
Dari keseluruhan track, “Cerita di Senayan” menjadi lagu yang paling menggambarkan kondisi TANJUNG saat ini. Lagu tersebut lahir dari kisah cinta yang sangat personal. “Sekarang aku sedang berada di fase hidup yang dipenuhi cinta,” ujarnya.
Sebelum perilisan album ini, TANJUNG telah lebih dulu merilis single “Lampaui” (3 Oktober 2024) dan “Cerita di Senayan” bersama J. Alfredo (22 Januari 2025). Rangkaian rilisan tersebut menjadi pengantar menuju Levitasi, album penuh dengan lirik Bahasa Indonesia, sebuah langkah baru TANJUNG untuk menjangkau pendengar lokal yang lebih luas, tanpa meninggalkan karakter musikalnya yang lintas genre.
Melalui Levitasi, TANJUNG tidak menawarkan jawaban atau solusi, melainkan ruang refleksi. Album ini ditujukan untuk menemani fase hidup ketika seseorang masih mencari jati diri, masih ragu, dan belum sepenuhnya menemukan arah. Sebuah pengakuan jujur bahwa mengambang pun merupakan bagian dari perjalanan.
oridistro.com
www.shazam.com/album/1858931268/levitasi
#TANJUNG
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Wednesday January 21st, 2026
The Chasmala kembali menghadirkan karya terbaru berjudul “Cinta Tapi Terluka”, sebuah single yang mengangkat realitas pahit hubungan percintaan tidak sehat atau yang akrab disebut toxic relationship di kalangan Gen Z. Lagu ini menggambarkan konflik batin dua insan yang saling mencintai, namun harus berhadapan dengan luka dan kekecewaan yang terus berulang.
Single ini diciptakan oleh Irfan Chasmala (keyboardist) dan disempurnakan bersama Pieter Anroputra (vokalis) serta Denny Chasmala (Denchas) sebagai gitaris. Proses kreatif lagu ini turut melibatkan Ade Govinda sebagai music producer, yang membantu mematangkan emosi serta nuansa musikal dalam aransemen lagu.
“Cinta Tapi Terluka” terinspirasi dari kisah nyata yang dialami oleh sahabat Irfan, sehingga emosi yang dihadirkan terasa dekat dan relevan bagi banyak pendengar. Lagu ini bercerita tentang dua hati yang pernah saling percaya, namun akhirnya harus menerima kenyataan bahwa cinta yang terus melukai tak seharusnya dipertahankan.
Single ini menjadi karya spesial bagi The Chasmala karena menghadirkan warna baru. Selain sebagai vokalis, Pieter juga tampil sebagai drummer. Formasi ini turut diperkuat oleh Rishanda Singgih (bass), Dika Chasmala (string), serta Meltho Pasto sebagai vocal director.
Single “Cinta Tapi Terluka” telah tersedia di seluruh platform musik digital mulai 21 Januari 2026, dan music video-nya dapat disaksikan melalui channel YouTube MyMusic Records.
oridistro.com
music.youtube.com/watch?v=Iv79sWy0bNs
#TheChasmala
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Cinta Tapi Terluka – YouTube Music
music.youtube.com
Provided to YouTube by PT Infinity Entertainment Cinta Tapi Terluka · The Chasmala Cinta Tapi Terluka ℗ MyMusic Records Released on: 2026-01-21 Auto-gen…Wednesday January 21st, 2026
Cloath merupakan band chaotic hardcore yang dibentuk di Banda Aceh dan kini berbasis di Jakarta. Datang dari ujung barat Indonesia, Cloath dikenal melalui karakter musik yang gelap dan intens, memadukan gitar bernada rendah yang bergemuruh, riff tajam, atmosfer mencekam, serta dentuman drum yang padat dan menghantam. Pendekatan ini membentuk identitas sonik Cloath yang agresif, bertenaga, dan meninggalkan kesan kuat bagi pendengarnya.
Cloath beranggotakan Fatahillah Reza (vokal), Wirya Nugraha dan Dopan Rehayatsyah (gitar), M. Khairul Azmi (bass), serta Alief Maulana (drum). Perjalanan rilisan Cloath dimulai melalui single debut “Odin” (2023) yang kemudian disusul oleh “Hellheim” (2024). Cloath juga mencatatkan pencapaian penting dengan menjadi salah satu pemenang Hammerclash Festival 2025 yang diselenggarakan oleh Hammersonic Records.
EP terbaru Cloath bertajuk The Fallen God dibuka dengan “Asborn” sebagai intro yang berfungsi sebagai pintu masuk menuju keseluruhan konsep. EP ini berlanjut melalui “Odin,” “Hellheim,” “Ragnarok,” “Valhalla” (feat. Dixie Erlangga / Strangers), dan ditutup dengan “Ashes. ” Terinspirasi dari narasi mitologi nordik, EP ini menjadikan kisah para dewa sebagai metafora atas kehidupan manusia modern tentang kejatuhan figur yang diagungkan, hasrat akan kekuasaan, serta konflik batin ketika keyakinan dan ego saling berbenturan. Setiap lagu dirangkai sebagai satu kesatuan cerita, bergerak dari fase kelahiran, pengagungan, kehancuran, hingga kehampaan yang tersisa. Kolaborasi dengan Dixie Erlangga pada lagu “Valhalla” menghadirkan dinamika vokal yang kontras sekaligus memperkuat klimaks emosional dalam keseluruhan narasi EP ini.
Melalui The Fallen God, Cloath menegaskan langkah mereka untuk menjangkau audiens yang lebih luas, membangun komunikasi dengan promotor dan media, serta memperluas jaringan di kancah musik keras, tanpa meninggalkan karakter mentah yang berakar dari scene underground. Cloath berharap EP ini dapat menjadi medium refleksi sekaligus pengalaman mendengarkan yang utuh bagi pendengar lama maupun audiens baru. EP The Fallen God kini telah tersedia dan dapat didengarkan di seluruh Digital Streaming Platform (DSP).
oridistro.com
music.apple.com/us/album/the-fallen-god-ep/1865982523
#Cloath
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Wednesday January 21st, 2026
THE FUNERAL PORTRAIT yang sebelumnya dipilih oleh Pandora sebagai salah satu “Artists to Watch 2025: The Pandora Ten,” sebuah daftar sepuluh artis pendatang baru lintas genre yang diyakini platform tersebut akan melejit. Tiket untuk seluruh pertunjukan terediaINIektasi tersebut dengan meraih dua single #1 Active Rock di tanggal lagu Billboard dan Mediabase s—‘Holy Water’ (feat. Ivan Moody ) dari Five Finger Death Punch serta ‘Suffocate City’ (feat. Spencer Charnas dari Ice Nine Kills)—sementara single terbaru mereka ‘Dark Thoughts’ saat ini berada di posisi Top 3. Tahun lalu juga menjadi tahun tersibuk mereka dalam tur di Amerika Serikat bersama band-band seperti Ice Nine Kills dan In This Moment, sekaligus jadi tur Eropa pertama mereka bersama The Rasmus.
THE FUNERAL PORTRAIT langsung membuka tahun 2026 dengan merilis album live pertama mereka, LIVE FROM SUFFOCATE CITY via Better Noise Music. Album ini tersedia untuk streaming/unduh serta pembelian dalam format CD/Blu-Ray serta Vinyl dengan warna khas hijau dan ungu mereka. Bersamaan dengan dirilisnya album ini, mereka juga menghadirkan video sinematik untuk lagu ‘Stay Weird’ yang juga dirilis hari ini.
“‘Stay Weird’ selalu jadi surat cinta kami untuk jiwa-jiwa unik yang telah mendukung band ini sejak hari pertama,” ujar sang frontman Lee Jennings. “Mendengar The Coffin Crew menyanyikannya kembali kepada kami di Atlanta saat ‘Suffocate City Town Hall Meeting’ terasa luar biasa. Malam itu merangkum semua yang kami perjuangkan—individualitas, rasa memiliki, dan kebebasan untuk jadi diri sendiri. Aku sangat antusias karena album live ini memungkinkan dunia merasakan energi tersebut.” ‘Stay Weird’ merupakan lanjutan dari video live single andalan mereka ‘Voodoo Doll’, yang dirilis pada 31 Oktober.
Melalui LIVE FROM SUFFOCATE CITY, para penggemar diajak masuk ke dalam kekacauan dan katarsis dari “Suffocate City Town Hall Meeting” pertama dari THE FUNERAL PORTRAIT yang direkam secara live dari pertunjukan di kampung halaman mereka yang terjual habis di The Masquerade, Atlanta, GA pada 2025. Blu-Ray eksklusif ini mendokumentasikan penampilan legendaris band ini di hadapan lautan penggemar setia, menghadirkan malam penuh emosi mentah, energi yang tinggi serta anthem favorit penggemar.
Penggemar sebelumnya juga telah mendapatkan bocoran album live ini lewat perilisan DARK THOUGHTS EP yang berisi 4 buah track pada 22 Agustus. Selain versi live, EP ini juga memuat 3 versi lain dari “Dark Thoughts” yaitu: versi original, versi dengan vokal Danny Worsnop dari Asking Alexandria, dan remix terbaru lagu tersebut. Tiket untuk seluruh pertunjukan terediaINI, beserta dua buah video: “Dark Thoughts (Beyond The Abyss Remix)” dan “Dark Thoughts (Live From Suffocate City)” yang telah ditonton lebih dari 34 ribu kali)
Tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun tur besar lainnya bagi THE FUNERAL PORTRAIT. Mereka akan menggelar 2 pertunjukan di kampung halaman mereka, Atlanta Ga pada 16 dan 17 Januari berjudul “Suffocate City Town Hall Meeting”, sebelum melanjutkan tur “Alienation” besama Three Days Grace serta I Prevail mulai 21 Februari di Fort Wayne, IN. Tiket untuk seluruh pertunjukan teredia di official website.
oridistro.com
www.shazam.com/album/1847487443/live-from-suffocate-city
#THEFUNERALPORTRAIT
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Live from Suffocate City – album by The Funeral Portrait
www.shazam.com
Listen to Live from Suffocate City by The Funeral Portrait · 2026-01-16 · 14Tuesday January 20th, 2026
Single terbaru Keina Suda, “Libera リベラ”, terasa seperti sengatan listrik. Terkait dengan drama TV Tokyo “We Are Bad Barbers”, lagu ini memadukan energi alt-pop yang energik dengan visual sinematik yang gelap dan disutradarai oleh Mai dari CLAN QUEEN, menangkap dunia di mana ketegangan dan kebebasan bertabrakan. Ini adalah pandangan yang berani dan mendalam ke dalam suara dan penceritaan Keina Suda yang terus berkembang.
“Libera” menyalurkan ketegangan perjuangan manusia dan momen-momen terang yang muncul darinya, sebuah tema yang secara visual diperkuat oleh Mai dalam MV.
“Ketika pertama kali mendengar lagu dan liriknya, saya merasa bahwa mimpi buruk bukan hanya dari orang lain, tetapi juga iblis di dalam diri kita sendiri,” jelas Mai. “Sekilas kebebasan dalam video tersebut mewakili momen-momen di mana kejernihan pikiran memicu tindakan. Suara lagu yang gelap namun penuh semangat dan semburan cahaya terakhir MV beresonansi bersama, mencerminkan dunia musik Keina Suda.”
Single ini mengikuti serangkaian rilisan berdampak tinggi dari Keina Suda pada tahun 2025, termasuk proyek album cover “Fall Apart” yang mengulas kembali hits era Balloon-nya. Setiap rilisan menampilkan akar bedroom-pop Keina Suda sambil mendorong suaranya ke wilayah sinematik dan perpaduan genre, mengukuhkannya sebagai kekuatan kreatif dalam musik Jepang modern.
Para penggemar juga dapat menyaksikan Keina Suda secara langsung dalam turnya TOUR 2026 “GLIMMER”, yang akan digelar di Osaka dan Tokyo masing-masing pada tanggal 15 dan 29 Maret. Dengan “GLIMMER” yang melambangkan cahaya redup dalam kegelapan, tur ini menjanjikan pengalaman penuh harapan, intensitas, dan puncak emosi yang mencerminkan alur dramatis video musik “Libera”.
Dengan “Libera”, Keina Suda menunjukkan bahwa musiknya bukan hanya sekadar lagu – tetapi sebuah dunia, sebuah cerita, dan kini sebuah perjalanan visual. Saat tahun 2026 dimulai, para penggemar dapat mengharapkan lebih banyak lagu yang berani dan melampaui genre, serta penampilan langsung yang mengaburkan batas antara bayangan dan cahaya, suara dan cerita.
Tentang Keina Suda
Keina Suda memulai kariernya sebagai produser Vocaloid "Balloon" di Nico Nico Douga pada tahun 2013. Cover lagunya yang populer, "Charles," telah meraih lebih dari 150 juta penayangan di YouTube. Pada tahun 2017, ia beralih ke penampilan dengan namanya sendiri dan merilis album penuh pertamanya, "Billow," pada tahun 2021, yang menduduki peringkat ke-7 di tangga lagu mingguan Oricon. Album penuh keduanya, "Ghost Pop," dirilis pada tahun 2023, menampilkan lagu-lagu seperti "Darling" dan "Mellow," yang digunakan sebagai lagu tema pembuka untuk anime TV.
oridistro.com
recochoku.jp/song/S1029273455/hires_single
#Avex
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Tuesday January 20th, 2026
Tidak semua musisi merayakan ulang tahun dengan pesta. Di usia 31 tahun, Ndarboy Genk justru memilih merilis sebuah lagu yang reflektif dan penuh makna. Berjudul “Tak Kancani”, single ini dirilis tepat pada 14 Januari 2026, bertepatan dengan hari ulang tahun Ndarboy Genk. Single ini bukan ditujukan sebagai selebrasi, melainkan sebagai hadiah untuk menemani pendengarnya dalam situasi apa pun—terutama saat berada dalam kondisi sulit.
“Tak Kancani” adalah lagu yang lahir dari kegelisahan personal Ndarboy Genk setelah perjumpaannya dengan teman-teman difabel, khususnya musisi tunanetra yang sehari-hari mengamen di Yogyakarta. Dari sana, ia justru menemukan cermin yang memantulkan ulang cara ia memandang hidup dan berkarya.
“Saya sering lihat teman-teman tunanetra ngamen, penghasilannya tidak menentu, tapi mereka bisa menikmati hidupnya, selalu ceria. Lantas saya melihat diri sendiri yang mungkin masih sering mengeluh. Dari situ saya tersadar tentang spirit dan ketulusan dalam bermusik dan kemudian saya tuangkan ke dalam lagu ini,” kata Ndarboy Genk.
Dalam single ini, Ndarboy Genk menggandeng musisi tunanetra asal Yogyakarta, Fauzi Haidi. Ndarboy bersama Fauzi pun terlibat dalam proses kreatif yang intens. Fauzi bahkan menunjukkan kepiawaiannya dalam meramu musik dengan banyak memberi masukan soal aransemen musik ini. Hasilnya, “Tak Kancani” adalah sebuah kolaborasi yang setara, organik, dan memberi ruang pada Ndarboy dan Fauzi untuk saling belajar.
“Lagu ini bukan tentang uang, tujuan viral, bukan buat cari gimmick. Buat saya ini bentuk solidaritas dan support untuk teman-teman difabel. Saya ingin lagu ini jadi soundtrack hidup banyak orang, terutama saat mereka sedang memiliki beban berat, sakit, atau merasa sendirian,” ujar Ndarboy.
Lebih dalam lagi, Ndarboy merasa single ini membuatnya terlahir kembali sebagai seorang musisi, “Rasanya kayak diingatkan lagi bahwa berkarya itu harus tulus. Setelah kolaborasi ini, saya seperti balik ke nol lagi. Soal rezeki, soal lagu ini diterima atau tidak, itu urusan Yang Kuasa.”
Ndarboy Genk dan Misi Budaya di Suriname
Bersamaan dengan perilisan lagu, Official Lyrics Video “Tak Kancani” juga dirilis pada hari yang sama melalui kanal YouTube Ndarboy Genk. Video lirik ini menampilkan perjalanan Ndarboy Genk dan Fauzi Haidi di Suriname.
Perjalanan ke Suriname menghadirkan lapisan lain dalam rilisan ini. Seperti kita ketahui, begitu banyak diaspora Jawa yang hidup di sana. Di tengah jarak geografis dan perbedaan generasi, Ndarboy Genk membawa musik pop Jawa sebagai jembatan memupuk persaudaraan sekaligus merawat budaya Jawa untuk generasi muda Suriname.
“Orang Suriname yang tua-tua masih fasih bahasa Jawa, tapi anak mudanya sudah mulai jarang pakai. Saya datang ke Suriname dengan satu harapan sederhana, jangan sampai orang Jawa di Suriname kehilangan bahasanya dan akar budayanya. Musik bisa jadi cara paling efektif buat mengingatkan itu,” jelas Ndarboy Genk.
Melalui panggung-panggung yang dipenuhi penonton dan perjumpaan lintas generasi, “Tak Kancani” tidak hanya hadir sebagai lagu, tetapi juga sebagai bagian dari upaya merawat identitas. Bahwa di mana pun berada, bahasa dan budaya tetap bisa menjadi rumah.
Single “Tak Kancani” telah tersedia di seluruh platform streaming digital sejak 14 Januari 2026.
oridistro.com
music.youtube.com/watch?v=n-UVUnDnx18
#NdarboyGenk
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
music.youtube.com
Provided to YouTube by Ndarboy Genk Tak Kancani · Ndarboy Genk · Fauzi Haidi Tak Kancani ℗ Ndarboy Genk Released on: 2026-01-14 Producer: Helarius Daru …Tuesday January 20th, 2026
Grup alt-rock favorit Yellowcard merilis single radio terbaru mereka hari ini, ‘Bedroom Posters’ yang menampilkan Good Charlotte. Lagu ini merupakan versi kolaborasi terbaru dari ‘Bedroom Posters’ yang terdapat dalam album mereka tahun 2025, yang juga memuat lagu utama ‘Better Days’, sebuah single alternatif pertama Yellowcard yang berhasil menempati posisi nomor 1 di beberapa radio.
“Single baru “Bedroom Posters” ini ditujukan bagi siapapun yang menyimpan kenangan kampung halaman mereka dengan penuh rasa sayang…”, kata vokalis utama Ryan Key. “Pernahkan kamu kembali mengunjungi kampung halamanmu dan merasa dihantam oleh semua kenangan yang membawa kamu ke hari saat kamu pergi? Pernahkah kamu merasa bahwa menetap di suatu tempat berarti harus melepaskan mimpi? Jika iya, maka ‘Bedroom Posters’ adalah lagu untukmu.” Key melanjutkan, “Kami semua merasa agu ini adalah lagu yang sangat spesial sejak proses pembuatan album ini. Kekuatan vokal Joel membawanya ke level yang lebih jauh lebih berdampak dan benar-benar bisa membawa kamu kembali ke kamar tidur tempat kamu pertama kali jatuh cinta dengan band favoritmu.”
“GC dan Yellowcard akhirnya punya lagu bersama dan rasanya sangat tepat,” ujar vokalis Good Charlotte, Joel Madden. “Aku sangat mencintai band ini dan lagu ini, dan aku sangat senang kolaborasi GC x YC akhirnya terwujud. Dan sekarang kami akan tur bersama! Inilah bahasa cinta kami dan aku harap semua yang mendengarkan bisa merasakan cinta yang dimiliki kedua band kami satu sama lain, kepada para penggemar dan terhadap musik. Aku sudah tidak sabat untuk tur!”
Better Days merupakan album terbaru Yellowcard yang pertama dalam hampir satu dekade, sekaligus jadi album pertama mereka dengan eksekutif produser Travis Barker. Barker juga memainkan drum di setiap lagu termasuk ‘Bedroom Posters’, ‘Better Days’, ‘honesty I’, dan ‘Take What You Want’. Setelah sukses besar lewat “Maximum Fun Tour” bersama A Day To Remember tahun lalu, Yellowcard mengumumkan rangkaian tur besar di Amerika Serikat musim panas ini dan mengajak serta beberapa teman. “The Up Up Down Down Tour” akan menampilkan New Found Glory dan Plain White T’s. Sebelumnya, Yellowcard dan Good Charlotte juga akan menyambangi Australia dan Selandia Baru bersama dimulai pada 17 Februari.
oridistro.com
music.apple.com/us/album/bedroom-posters/1810791073
#Yellowcard
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Tuesday January 20th, 2026
Penyanyi-penulis lagu asal North Carolina, Anjimile, mengumumkan rencananya untuk merilis album penuh berjudul You’re Free to Go, yang akan dirilis pada 13 Maret 2026 melalui label 4AD. Pengumuman ini disertai dengan perilisan single utama yang bercahaya, “Like You Really Mean It”, sebuah lagu yang penuh kelembutan dan kerentanan emosional, lengkap dengan video musik indah yang disutradarai oleh Caity Arthur.
Anjimile berbagi cerita:
“Aku menulis lagu ini supaya pacarku mau menciumku. Kami tinggal sekitar satu jam berjauhan, dan saat itu aku sendirian, memikirkannya. Memikirkan betapa aku ingin sebuah ciuman. Apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan ciuman dari kekasihku? Menulis lagu tentang itu! Dan ya, ternyata berhasil.”
Single “Like You Really Mean It” dirilis setelah single bulan November “Auld Lang Syne II”, sebuah lagu reflektif yang lembut—seperti surat untuk diri sendiri—tentang ketahanan dan kebebasan yang diperjuangkan dengan susah payah. Lagu ini ditandai dengan petikan senar yang halus, bagian tiup yang menawan, serta vokal yang intim. Media Stereogum menyebut lagu ini “menakjubkan” saat dirilis. Anjimile sendiri mengatakan bahwa lagu tersebut awalnya
“dimaksudkan sebagai semacam hadiah pernikahan untuk sahabat terbaikku, yang menikah beberapa tahun lalu.”
Berbeda dengan kerumitan dan kompleksitas album The King, You’re Free to Go berkembang secara alami di bawah arahan intuitif produser Brad Cook (Waxahatchee, Hurray for the Riff Raff, Mavis Staples). Lagu-lagu dalam album ini mekar dengan alami, berlandaskan gitar akustik yang hangat, tekstur synth yang halus, aransemen string yang kaya, serta lapisan ritme yang lembut. Kolaborasi dengan musisi Nathan Stocker (Hippo Campus), Matt McCaughan (Bon Iver), dan vokalis tamu Sam Beam (Iron & Wine)—seorang pahlawan pribadi bagi Anjimile yang musiknya telah memengaruhi album ini bahkan sebelum keterlibatannya—menciptakan suasana yang eksploratif namun tetap intim, selaras dengan gaya bercerita Anjimile yang penuh nuansa.
Anjimile (dibaca: ann-JIM-uh-lee) Chithambo telah menempuh jalur musik yang khas, ditandai dengan introspeksi yang jujur tanpa kompromi. Berasal dari skena indie Boston saat menempuh studi di Northeastern University, Anjimile memikat pendengar melalui penulisan lagu yang tulus, tekstur suara yang lembut, serta penampilan yang terasa seperti doa sekaligus perayaan.
Pujian kritikus pun segera menyusul. Album Giver Taker (2020), yang disebut Rolling Stone sebagai salah satu album terbaik tahun tersebut, menempatkannya sebagai suara penting yang mengeksplorasi tema spiritualitas, identitas, dan pembebasan. Melalui The King (2023), Anjimile memperdalam pengamatannya tentang pengalaman hidup sebagai pribadi kulit hitam dan trans di tengah gejolak pribadi dan sosial, sekaligus menegaskan komitmennya yang berani untuk menghadapi ketidaknyamanan sebagai jalan menuju kebebasan.
Album You’re Free to Go melanjutkan perjalanan dari The King, namun dengan sikap yang lebih terbuka. Pertanyaan utamanya adalah: apa yang terjadi ketika kamu melepaskan kendali dan membiarkan cinta masuk?
Dibuat selama bertahun-tahun penuh perubahan, album ini dengan jelas menggambarkan kompleksitas mendalam dari proses perubahan—mulai dari perpisahan hingga cinta baru; dari duka dan kehilangan yang mendalam menuju pembaruan dan penemuan diri kembali.
“Dua tahun terakhir adalah masa transisi yang sangat besar dalam hidupku,” jelas Anjimile. Dalam You’re Free to Go, ia belajar untuk kembali mempercayai hidup.
Judul album ini melambangkan pandangan luas Anjimile tentang cinta dan kebebasan pribadi, yang sangat dipengaruhi oleh hubungannya dengan pasangan serta praktik non-monogami yang mereka jalani dengan penuh sukacita. Ia menggambarkannya dengan cara yang jenaka:
“Aku memandang non-monogami seperti meletakkan susu setiap malam di teras rumah untuk kucing-kucing; mereka boleh datang kalau mau,” sebuah pengingat bahwa hubungan akan tumbuh ketika benar-benar dipilih, bukan dibatasi oleh norma yang kaku. Nuansa bermain ini juga terasa dalam lagu “Rust & Wire”, yang menangkap sensasi jatuh cinta berulang kali (“matang dalam panas seperti anggur”).
Di sisi lain, You’re Free to Go juga menyelami kebenaran yang lebih berat dan gelap. Lagu “Exquisite Skeleton” menggambarkan pedihnya keterasingan dari keluarga, sementara “Ready or Not” menyoroti kelelahan dalam menghadapi transfobia.
“Saat aku masih gadis kecil, aku ingin bebas… Saat aku masih bocah laki-laki, aku ingin menjadi nyata,” ucapnya dengan jujur dalam “Waits For Me”, sebuah perenungan kuat tentang identitas masa kecil. Namun bahkan di momen-momen paling mendalam, album ini tetap memancarkan cahaya. Setiap lagu menyediakan ruang untuk penyembuhan—mengubah rasa sakit menjadi sesuatu yang lembut, bisa dibagi bersama, dan membebaskan.
Spiritualitas tetap menjadi jantung dari karya Anjimile.
“Menulis lagu terasa seperti doa, permohonan, atau pertanyaan,” katanya.
Sepanjang You’re Free to Go, kesakralan terasa hidup dan tidak sempurna—sebuah praktik bernapas, bertanya, dan memaafkan. Album ini bergetar dengan energi sakral yang sama: berantakan, namun penuh anugerah.
Dalam album ini, Anjimile dengan piawai memadukan berbagai pengaruh musik untuk memperkuat dampak emosionalnya. Lagu-lagu seperti “Turning Away” dan “The Store” menghadirkan kejujuran mentah ala karya awal Modest Mouse. Kolaborasi dengan Sam Beam dalam “Destroying You” menambahkan kehangatan lembut yang melengkapi ekspresi vokal Anjimile. Secara melodi, album ini membangkitkan nostalgia samar akan pop alternatif akhir 1990-an, memadukan nuansa folk dengan hook yang akrab dan mudah diingat. Anjimile juga menunjukkan perkembangan signifikan dalam cara bernyanyinya—lebih santai dan ekspresif—sebagian berkat terapi hormonal yang sedang dijalaninya, sebuah perjalanan transformatif yang ia sambut dengan sukacita. Kedalaman vokal barunya ini semakin memperkuat resonansi emosional album.
Saat bersiap membawakan You’re Free to Go secara live, Anjimile membayangkan pertunjukan intim yang menafsirkan ulang lagu-lagu album, bukan sekadar menirunya. Ia berharap keaslian dan kerentanan dalam lagu-lagu ini dapat terasa kuat, seraya menegaskan:
“Album ini terasa sangat jujur terhadap pengalaman hidupku. Ini adalah cara paling dekat untuk mengenalku lewat sebuah rekaman.”
You’re Free to Go adalah potret transformasi—bukan sebagai luka, melainkan sebagai sebuah keterbukaan. Dengan tekstur yang kaya, kumpulan lagu ini merupakan cerminan jujur dari naik-turun kehidupan. Album ini memberi ruang bagi kontradiksi dan menemukan kebebasan dalam kelembutan. Seperti yang diungkapkan Anjimile dengan indah, album ini tentang “bernapas di dalam pertanyaan”, mengakui bahwa momen paling bermakna dalam hidup sering kali hadir tanpa jawaban pasti, melainkan dalam ketegangan lembut antara ketidakpastian dan penemuan. Di setiap nada, Anjimile memberi ruang bagi pendengar untuk merenung dan menemukan kebenaran mereka sendiri, sambil dengan lembut mengingatkan bahwa kebebasan bukanlah ketiadaan rasa sakit, melainkan keberanian untuk mencintai, bertanya, dan terus memulai kembali.
Pujian untuk Anjimile:
“Sebuah suara yang matang dan penuh percaya diri.” — The Observer
“Sebuah ode perayaan untuk masa depan yang menunjukkan kecakapan dan ketajaman Chithambo dalam memahami kehidupan.” — The Line of Best Fit
“Sebuah telaah inovatif terhadap kehidupan Amerika yang terdistorsi.” — Uncut
“Sifat kreatif Anjimile sungguh memikat.” — NPR Music
“Suaranya bisa melunakkan hatimu seperti dalam lagu ‘1978’, lalu seketika terdengar berani dan menggoda di ‘Baby No More’. Perekatnya adalah kemurahan hati dan keberanian tanpa rasa takut.” — Rolling Stone
“‘Auld Lang Syne II’ sungguh menakjubkan.” — StereoguM
oridistro.com
music.apple.com/us/album/like-you-really-mean-it/1860276153
#Anjimile
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Tuesday January 20th, 2026
Carmen Glorya kembali merilis single terbarunya dengan judul "Maniez". Dalam single terbarunya ini, Carmen Glorya berkolaborasi dengan Ira Khayz, dan di produseri oleh Kevin Pangestu, serta di mixing mastering oleh Arif Hardianto.
“Maniez” adalah sebuah lagu tentang rasa yang tumbuh terlalu dalam, sementara balasannya tak pernah benar-benar ada. Lagu ini menceritakan cinta bertepuk sebelah tangan, ketika seseorang hadir bukan karena cinta, melainkan hanya karena kebutuhan.
Lewat lirik yang jujur dan penuh perasaan, “Maniez” menggambarkan manisnya perhatian di awal yang perlahan berubah menjadi luka. Ada harapan yang dipeluk terlalu lama, padahal sejak awal posisinya tak pernah seimbang. Kata maniez menjadi simbol ironi, terasa manis di luar, namun menyimpan pahit di dalam.
Dengan balutan musik yang bernuansa hipdut dengan lirik yg relate dengan kehidupan zaman sekarang, “Maniez” mengajak pendengar untuk menyadari perbedaan antara dicintai atau hanya sekadar dibutuhkan. Lagu ini menjadi cermin bagi mereka yang pernah bertahan demi rasa, meski akhirnya harus menerima bahwa tidak semua yang selalu ada, benar-benar bertahan karena sayang. Lagu ini juga menjelaskan bagaimana seorang pasangan yang kurang bersyukur dengan apa yang sudah dimilikinya.
“Maniez” bukan hanya tentang patah hati, tapi juga tentang keberanian untuk sadar dan melepaskan karena cinta seharusnya saling bukannya hanya sepihak.
oridistro.com
music.youtube.com/watch?v=bckAiOi65ww
#CarmenGlorya
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
music.youtube.com
Provided to YouTube by TuneCore Maniez · Carmen Glorya · Ira khayz Maniez ℗ 2026 Carmen Glorya Released on: 2026-01-07 Auto-generated by YouTube.Tuesday January 20th, 2026
Cavetown, nama panggung seniman asal Inggris Robin Skinner, telah merilis album barunya, Running With Scissors, yang kini tersedia via Futures Music Group. Album ini menandai momen penting dalam karier Skinner: sebuah karya yang secara emosional luas, menangkap ambang batas yang membingungkan antara masa muda dan kedewasaan, dipadukan secara musikal melalui hyper-pop, gitar heavy, dan suara dream-pop khasnya.
Bersamaan dengan perilisan album, single utama dan video musik untuk “Cryptid” juga dirilis. Lagu dan film pendek ini mengeksplorasi pengalaman masa muda Skinner. Dalam video tersebut, “cryptids” hidup di bawah tanah, tersembunyi dari dunia yang takut dan tidak memahami mereka, hingga akhirnya mereka muncul untuk menantang narasi yang dipaksakan pada mereka. Meskipun video ini berfokus pada pengalamannya dan menyertakan simbolisme di sepanjang cerita, niat Skinner lebih luas: untuk memantulkan cermin bagaimana masyarakat secara historis telah menggambarkan banyak identitas sebagai “yang lain”. “Dengan membiarkan diri saya mencintai,” kata Skinner, “saya juga membiarkan diri saya merasa marah terhadap hal-hal yang biasanya saya abaikan. Saya harap ini terasa memberdayakan bagi orang-orang untuk menyanyikan kembali.”
Bertepatan dengan perilisan albumnya, Cavetown mengumumkan serangkaian konser utama Running With Scissors Tour di Chicago, Los Angeles, dan Brooklyn, membawa tema-tema album tentang pertumbuhan, refleksi, dan koneksi ke dalam setting konser yang intim. Bersama PLUS1, $1 dari setiap tiket yang terjual akan disumbangkan ke organisasi lokal yang bekerja untuk mendukung dan memberdayakan kesehatan dan kesejahteraan komunitas, menegaskan komitmen Cavetown yang berkelanjutan dalam advokasi dan perawatan komunitas.
Ditulis di sisi lain dari proses penyembuhan intensif selama dua tahun, Running With Scissors dibentuk oleh dua perubahan hidup yang mendalam: jatuh cinta pada orang yang ingin Skinner bangun masa depan bersamanya, dan kelahiran saudara kandung pertamanya, yang 26 tahun lebih muda darinya, yang memicu refleksi mendalam tentang sejarah keluarga, maskulinitas, dan tanggung jawab. Selama album ini, Skinner mengeksplorasi arti dari “mereparen diri sendiri,” memutuskan bagian mana dari pengasuhan yang akan dibawa ke depan, dan bagian mana yang harus dibuang agar dapat hadir dengan cara yang berbeda bagi orang-orang yang dicintainya.
Album ini dibuka dengan “Skip,” lagu cinta yang ceria yang Skinner sebut sebagai “lagu pertama yang saya tulis dengan nada positif yang sejati,” menangkap kegembiraan anak-anak dalam mencintai dari tempat yang aman. Chord terakhirnya mengalir langsung ke “Cryptid,” mengungkapkan cinta dan amarah sebagai kekuatan yang saling terkait. “Rainbow Gal” memantulkan keintiman melalui jarak dengan tekstur 8-bit yang berkilau; “Baby Spoon” dengan lembut menginterpretasi kembali maskulinitas melalui kepedulian dan kelembutan; “NPC,” “Reaper,” dan “Straight Through My Head (DO IT!!!)” menghadapi disosiasi, kelelahan, pikiran intrusif, dan bertahan hidup; sementara “No Bark, No Bite” dan “Micah” bergelut dengan keluarga, warisan, dan pria, serta saudara, yang Skinner cita-citakan dalam dirinya.
Running With Scissors juga menandai tonggak kreatif yang penting. Untuk pertama kalinya dalam kariernya, Skinner melibatkan kolaborator dalam proses kreatif inti, bekerja sama secara erat dengan Chloe Moriondo, Underscores, Ryan Raines, David Pramik, dan Couros, yang kontribusinya memperluas cakrawala sonik Cavetown.
Album ini ditutup dengan title track, “Running With Scissors,” yang merangkum metafora utama album: kedewasaan sebagai risiko, ketidakseimbangan, dan gerakan maju. “Semua orang berlari dengan gunting,” refleksi Skinner. “Ada begitu banyak hal yang menakutkan, tapi juga begitu banyak kesenangan yang bisa dinikmati, dan kamu akan melewatkan semuanya jika tidak berani mencoba.”
Di luar musik, Cavetown tetap menjadi pembangun komunitas yang penting. Proyek This Is Home-nya yang telah berjalan lama, sebuah inisiatif untuk komunitas muda yang mendukung perumahan, layanan kesehatan mental, program kreatif, dan dukungan krisis, telah mengumpulkan lebih dari $700.000 untuk organisasi yang melayani orang muda. Semangat peduli, advokasi, dan tanggung jawab yang sama mengalir sepanjang Running With Scissors, menyoroti evolusi Skinner tidak hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai individu yang sangat berkomitmen pada dunia yang ingin dia bantu bentuk.
Dengan “Running With Scissors”, Cavetown sepenuhnya memasuki usia dewasa tanpa meninggalkan jutaan pendengar yang telah tumbuh bersama dirinya. “Saya tidak ingin ini terasa seperti untuk anak-anak,” kata Skinner. “Karena saya sudah bukan anak-anak lagi. Saya ingin ini terasa seperti kita bergerak maju bersama.”
oridistro.com
www.urbanoutfitters.com/shop/hybrid/cavetown-running-with-scissors-uo-exclusive-lp
#Cavetown
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Cavetown – Running With Scissors UO Exclusive LP
www.urbanoutfitters.com
Shop Cavetown – Running With Scissors UO Exclusive LP at Urban Outfitters today. Discover more selections just like this online or in-store. Shop your favorite brands and sign up for UO Rewards to receive 10% off your next purchase!Tuesday January 20th, 2026
“Membuat jalannya sendiri di dunia musik pop.”
-PAPER
“Baik album maupun aksesori yang dinamai sesuai namanya terasa seperti wadah untuk kenangannya. Locket menyimpan semua pengalaman yang telah ia alami, yang menjadikan proyek ini apa sebagaimana adanya sekarang.”
-Rolling Stone
Hari ini, penyanyi yang dua kali dinominasikan GRAMMY dan pemegang sertifikat Platinum, Madison Beer, merilis album barunya, locket, via Epic Records, bersamaan dengan perilisan video musik resmi untuk single barunya “bad enough.”
Ditulis dan diproduseri bersama Madison, album ini merupakan kumpulan lagu paling mendebarkan dan menggetarkan yang pernah ia buat, dan dengan tegas menempatkan dirinya sebagai salah satu album pop terkemuka yang akan mendominasi tahun 2026.
Awal pekan ini, Madison meluncurkan lagu barunya “bad enough” dengan penampilan yang menonjol di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, menandai penampilan live perdana lagu tersebut.
Sebuah liontin bukan hanya perhiasan atau aksesoris. Ia adalah kenang-kenangan, sebuah wadah rahasia yang menyimpan kenangan berharga. Bagi Madison, liontin itu melambangkan dunia kenangan dan pengalaman, yang masing-masing saling terjalin untuk membentuk album terbaru, paling mendesak, dan memikat dari penyanyi-penulis lagu dan bintang pop tersebut.
Album ini menampilkan lagu-lagu hitsnya yang sangat diapresiasi, “make you mine,” “yes baby,” dan “bittersweet.” Madison mendapatkan nominasi GRAMMY keduanya untuk “make you mine” dalam kategori Best Dance Pop Recording pada tahun 2025. Sejak dirilis pada tahun 2024, lagu tersebut mencapai peringkat #1 di chart Dance Airplay Billboard, menandai lagu solo pertamanya yang menduduki puncak tangga lagu dan mengukuhkan posisinya sebagai sosok yang tak tergantikan di Dance Radio. “yes baby,” yang dirilis pada September lalu, melanjutkan kesuksesannya dengan juga menduduki puncak tangga lagu.
“bittersweet” menjadi momen bersejarah bagi Beer, menjadi lagu tercepatnya yang masuk ke Top 40 radio dan menandai debutnya di Billboard’s Hot 100. Lagu ini menjadi momen live yang ikonik dengan penampilannya di Victoria’s Secret Fashion Show 2025—di mana siaran langsung YouTube mencapai puncak 2,5 juta penonton selama penampilannya—dan Dick Clark’s New Year’s Rockin’ Eve.
Madison juga mengumumkan daftar jadwal tur yang luas pada Selasa, 13 Januari. Musim semi dan musim panas ini, Madison akan mengunjungi kota-kota besar di seluruh Amerika Utara, Inggris, dan Eropa. Tur yang terdiri dari 30 pertunjukan ini akan berakhir pada 13 Juli dengan pertunjukan pulang di Madison Square Garden yang legendaris. Penjualan tiket umum dimulai pada Jumat, 23 Januari pukul 12 siang waktu setempat.
oridistro.com
tidal.com/album/489771454
#MadisonBeer
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Tuesday January 20th, 2026
Mitski mengumumkan album studio kedelapannya, Nothing’s About to Happen to Me — dirilis pada 27 Februari via Dead Oceans — dan merilis single utama dan video musiknya, “Where’s My Phone?” Didukung oleh band live dan orkestra, Nothing’s About to Happen to Me menampilkan Mitski yang tenggelam dalam narasi kaya yang berpusat pada karakter utama seorang perempuan penyendiri di rumah yang berantakan. Di luar rumahnya, dia adalah seorang penyimpang; di dalam rumahnya, dia bebas.
Lagu rock yang berisik dan berantakan, “Where’s My Phone?,” memberikan gambaran tentang beragam suara dan energi di sepanjang album: “Where did it go // Where’s my phone // Where’s my phone // Where did I leave // Where’d I go // Where’d I go,” ia bernyanyi. Kartunis New Yorker, Emily Flake, menggambarkan interpretasinya dalam kartun.
“Where’s My Phone?” hadir bersamaan dengan video yang liar dan penuh emosi, disutradarai oleh Noel Paul. Berbasis pada novel Shirley Jackson, We Have Always Lived in the Castle, dan menggunakan gaya pembuatan film yang playful dan primitif, video ini menampilkan Mitski sebagai seorang perempuan paranoid yang berusaha melindungi adiknya di dalam sebuah rumah gotik sambil menghadapi rintangan-rintangan manusia yang semakin absurd. Menciptakan palet psikologis yang kompleks, para penyusup—baik yang mengancam maupun ramah—berdatangan secara berturut-turut, menciptakan kekacauan total.
Mitski menulis semua lagu dan menyanyikan semua vokal dalam album Nothing’s About to Happen to Me. Album ini diproduksi dan diproduksi oleh Patrick Hyland, serta mastering oleh Bob Weston. Album ini melanjutkan garis musik yang telah ditetapkan dalam album 2023 The Land Is Inhospitable and So Are We, dan menampilkan instrumen live dari band tur The Land serta aransemen ensembel. Orkestra direkam di Sunset Sound dan TTG Studios, diaransemen dan diarahkan oleh Drew Erickson, serta diproduksi oleh Michael Harris.
Mitski adalah “musisi paling memikat dan misterius dalam scene indie rock” (Rolling Stone) yang “terus berevolusi dengan cara-cara yang brilian dan menakjubkan” (NPR Music). Sepanjang kariernya, ia telah merilis tujuh album, empat di antaranya meraih sertifikasi Gold. Lagu “My Love Mine All Mine” miliknya menjadi sensasi global dan meraih sertifikasi platinum empat kali. Kolaborasi Mitski dengan seniman lain meliputi dua lagu yang ditulis bersama di album terbaru Florence and the Machine, Everybody Scream, serta dengan David Byrne dan Son Lux untuk lagu “This Is A Life” yang dinominasikan Oscar. Saat ini, ia sedang menulis musik dan lirik untuk adaptasi musikal The Queen’s Gambit.
“Sebuah studi gerak yang memukau” (Variety), pertunjukan live Mitski juga dijelaskan sebagai “sangat bergaya, brilian, dan menakjubkan” (Philadelphia Inquirer) serta “unik, misterius, dan benar-benar memikat” (The Guardian). Film konser pertamanya, Mitski: The Land, ditayangkan di lebih dari 600 bioskop di 30 negara pada Oktober 2025, mengukuhkan posisinya sebagai “bintang indie langka yang layak mendapatkan perlakuan layar lebar” (Uproxx). Film ini dirilis bersamaan dengan The Land: The Live Album.
oridistro.com
open.spotify.com/album/1oLPKLJMffq7fO3XapLx4G
#Mitski
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersMitski · single · 2026 · 1 songs … See MoreSee Less
Monday January 19th, 2026
Lahir dari reuni tanpa rencana, single ini menjadi penanda bahwa perjalanan The Lips belum berakhir. CHEERS! Telah dirilis pada hari ini 15/01/26.
The Lips telah merilis single baru mereka ‘CHEERS!’
Track ini akan ditampilkan di album debut mendatang mereka ‘ROADS ‘N RUMOURS’.
15 Januari 2026. Jakarta, Indonesia — Band alternatif asal Indonesia, The Lips, resmi merilis single terbaru berjudul “Cheers”, sebuah lagu kolaborasi bersama Palep yang lahir dari pertemuan tak terduga dan cerita panjang tentang jarak, waktu, serta mimpi yang sempat tertunda.
“Cheers” bukan sekadar lagu kolaborasi. Lagu ini menjadi penanda babak baru The Lips setelah perjalanan panjang yang penuh rumor, jeda, dan dinamika internal band. Lagu ini bahkan dirilis secara tidak sengaja—sebuah momen spontan yang justru terasa jujur dan apa adanya, sejalan dengan semangat lagu itu sendiri.
Kolaborasi dengan Palep menghadirkan warna baru dalam musik The Lips. Perpaduan karakter vokal, lirik reflektif, dan aransemen yang intim menjadikan “Cheers” terdengar seperti percakapan larut malam: tentang lelah, kehilangan arah, dan pada akhirnya, bersulang untuk semua yang masih bertahan.
Secara tematik, “Cheers” bercerita tentang pertemuan kembali—tentang dua arah hidup yang sempat menjauh lalu bertabrakan lagi di satu titik. Lagu ini terinspirasi dari momen reuni personal yang terjadi di Jakarta pada malam tahun baru, yang kemudian menjadi pemicu kembalinya semangat The Lips untuk melanjutkan perjalanan mereka.
“Cheers adalah lagu yang kami tulis tanpa rencana besar. Ia datang dari obrolan, tawa, dan kejujuran,” ungkap The Lips. “Bukan tentang kemenangan, tapi tentang tetap hidup dan berani bersulang meski belum sepenuhnya sampai.”
Single ini juga menjadi bagian dari rangkaian perjalanan menuju proyek besar The Lips ke depan, termasuk album Roads N’ Rumours, yang akan mengisahkan perjalanan band ini dari fase jatuh, diam, hingga bangkit kembali.
“Cheers” kini sudah dapat didengarkan di seluruh platform streaming digital.
Tentang The Lips
The Lips adalah band alternatif asal Binjai, Indonesia yang dikenal lewat narasi personal, jujur, dan emosional. Musik The Lips banyak berbicara tentang perjalanan hidup, konflik batin, rumor, kehilangan, serta usaha bertahan di tengah realita yang sering kali tidak ramah.
Perjalanan The Lips tidak selalu mulus. Setelah mulai dikenal di skena lokal, band ini sempat mengalami masa jeda panjang akibat tekanan hidup dan persoalan personal, terutama ketika Hafaz—vokalis sekaligus penggerak utama band—harus meninggalkan kota demi bertahan secara finansial. Jeda tersebut bukan akhir, melainkan fase bertahan.
Masa Jeda & Kembali
Setelah hampir satu tahun terpisah jarak dan aktivitas, reuni sederhana antara Kevin dan Hafaz di Jakarta pada malam tahun baru menjadi titik balik. Dari momen yang tidak direncanakan itu lahirlah single “Cheers!”—lagu yang awalnya tidak disiapkan sebagai rilisan resmi, namun justru menjadi penanda bahwa The Lips belum selesai.
“Cheers!” menjadi simbol selebrasi kecil atas keberanian untuk kembali, berdiri lagi, dan melanjutkan cerita yang sempat tertunda.
Musik & Narasi
Secara musikal, The Lips bergerak di ranah alternative dengan pendekatan yang lugas dan emosional. Lirik-liriknya sering kali terasa seperti catatan harian: jujur, mentah, dan dekat dengan pengalaman banyak orang.
Pendekatan ini juga tercermin dalam album Roads N’ Rumours, album berisi 9 track yang merekam perjalanan The Lips dari awal, terpaan rumor pahit, hingga usaha merebut kembali mimpi yang hampir ditinggalkan.
Hari Ini
Kini, The Lips kembali melangkah tanpa klaim berlebihan. Mereka hadir membawa lagu, cerita, dan kejujuran—percaya bahwa musik tidak harus sempurna untuk terasa nyata.
The Lips tidak datang untuk mengulang masa lalu, tapi melanjutkan cerita.
oridistro.com
music.youtube.com/watch?v=JWH3KWdibXE
#TheLips
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
music.youtube.com
Provided to YouTube by Pobs Record Cheers! · The Lips Cheers! ℗ Pobs Record Released on: 2026-01-15 Producer: The Lips Sound Engineer: The Lips Composer…Saturday January 17th, 2026
Grup hip-hop/R&B global XG mengumumkan evolusi berani dalam makna di balik nama mereka, beralih dari “Xtraordinary Girls” menjadi “Xtraordinary Genes”. Pengumuman ini bertepatan dengan Hari Kedewasaan di Jepang, menandai titik balik simbolis karena semua anggota secara resmi memasuki usia dua puluhan.
Sejak debut mereka, XG telah mendorong batasan dan menantang ekspektasi di bawah bendera “Xtraordinary Girls”, memberikan penampilan yang berani dan suara yang mengaburkan genre yang telah bergema di seluruh dunia. Makna baru, “Xtraordinary Genes”, membingkai ulang identitas itu dari sebuah label menjadi sesuatu yang inheren: kreativitas inti, individualitas, dan naluri budaya yang mendefinisikan grup ini pada dasarnya.
Dalam pernyataan resmi, XG berbagi:
“Terima kasih, seperti biasa, atas dukungan hangat dan berkelanjutan Anda.
Kami dengan senang hati mengumumkan bahwa XG telah mengubah nama grupnya dari “Xtraordinary Girls” menjadi “Xtraordinary Genes.”
Kata “Genes” mewakili kekuatan dan kreativitas yang ada di dalam inti kami, serta semangat kami untuk terus menciptakan budaya baru tanpa terikat oleh norma-norma konvensional.
Berlandaskan asal usul kami sebagai “Girls,” dan kembali ke “Genes” di inti kami, XG akan terus berevolusi lebih dalam dan lebih autentik. Melalui evolusi ini, kami bertujuan untuk tetap menjadi kehadiran yang memberdayakan orang-orang di seluruh dunia dari berbagai latar belakang.
Kami sangat menghargai dukungan Anda yang berkelanjutan untuk XG dan XGALX.”
Lebih dari sekadar perubahan nama, pergeseran ini mewakili kembalian ke asal – dari Girls sebagai awal menjadi Genes sebagai sumber. Ini menandakan sebuah grup yang mempertajam identitasnya dan bergerak maju dengan kejelasan dan keyakinan kreatif yang diperbarui.
Seiring dengan evolusi ini, XG telah meluncurkan visual utama untuk tur dunia kedua mereka, “XG WORLD TOUR: THE CORE,” yang akan dimulai di K-Arena Yokohama pada 6 Februari 2026. Setelah tur pertama mereka pada tahun 2024, yang menarik 400.000 penonton di 47 pertunjukan dan berpuncak di Tokyo Dome, tur baru ini menjanjikan pengalaman yang lebih mendalam ke dalam esensi XG.
Konsep visual tur ini, yang digambarkan dengan kaligrafi yang berani seperti karya seni album lengkap mereka yang akan datang, merangkum kehadiran, keyakinan, dan ambisi global XG yang intens. Para penggemar dapat mengharapkan penampilan di seluruh Jepang, Asia, Amerika Utara, Eropa, Australia, Amerika Latin, dan seterusnya.
Album penuh pertama XG, “THE CORE – 核,” yang dirilis pada 23 Januari 2026, adalah pernyataan musik yang berani yang menelusuri identitas grup di berbagai genre dan era. Dengan lagu-lagu seperti “XIGNAL (The Intro)”, “ROCK THE BOAT”, dan single pra-rilis “4 SEASONS”, album ini memperkuat genre X-POP baru yang sedang didefinisikan XG dan menampilkan kemampuan artistik mereka yang tak tergoyahkan.
Saat XG memasuki tahun 2026 dengan “Gen Luar Biasa” sebagai inti mereka, musik, penampilan, dan tur global mereka menandai pembukaan babak baru – yang didorong oleh insting, evolusi, dan apa yang ada di inti mereka.
Tentang XG
XG (Xtraordinary Genes) adalah grup artis beranggotakan tujuh orang yang terdiri dari JURIN, CHISA, HINATA, HARVEY, JURIA, MAYA, dan COCONA.
Tidak terikat oleh atribut bawaan atau kerangka kerja yang telah ditentukan sebelumnya, XG melepaskan kekuatan dan kreativitas yang ada di dalam inti setiap individu. Dengan terus menciptakan budaya baru tanpa dibatasi oleh konvensi, XG berupaya memberdayakan orang-orang di seluruh dunia dari semua lapisan masyarakat.
Mereka debut pada Maret 2022 dengan single pertama mereka "Tippy Toes." Sejak itu, mereka telah mencapai serangkaian tonggak sejarah global, termasuk menjadi artis Jepang pertama yang mencapai peringkat No. 1 di tangga lagu mingguan Billboard "Hot Trending Songs Powered by Twitter" dan tampil di sampul majalah Billboard. Mini album kedua mereka, “AWE,” yang dirilis pada November 2024, menandai masuknya mereka pertama kali ke tangga album Billboard AS, Billboard 200. Mulai tahun 2024, mereka meluncurkan tur dunia pertama mereka, “XG 1st WORLD TOUR ‘The first HOWL’,” yang menggelar 47 pertunjukan di 35 kota dan menarik sekitar 400.000 penonton. Pada pertunjukan terakhir tur di Tokyo Dome pada 14 Mei 2025, mereka memukau sekitar 50.000 penonton. Di “Coachella Valley Music and Arts Festival,” salah satu festival musik terbesar di AS, yang diadakan pada April 2025, mereka adalah satu-satunya artis Jepang yang tampil, menjadi penampil utama di panggung Sahara, dan menerima pujian tinggi dari media di Jepang dan luar negeri. Pada tanggal 23 Januari 2026, mereka akan merilis album penuh pertama mereka, “THE CORE – 核,” dan mulai bulan Februari, mereka akan memulai tur dunia kedua mereka, “XG WORLD TOUR: THE CORE.”
oridistro.com
xgalx.com/en/xg/news/detail.php?id=1130690
#Avex
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Saturday January 17th, 2026
Namanya jatuh cinta, pasti berjuta rasanya, perasaan selalu berbunga-bunga, dan harapan untuk memiliki sang idaman hati untuk selamanya selalu tumbuh setiap harinya Itulah perasaan yang tengah dirasakan oleh Nabila Taqiyyah di single terbarunya berjudul “Cegil”. Single ini dirilis di bawah label rekaman Universal Music Indonesia. Berbicara tentang cegil, buat kamu yang belum tahu, cegil itu suatu akronim dari ‘Cewek Gila’ yang terobsesi dalam mengejar cinta atau perhatian. Istilah ini ramai dan viral banget di media sosial, terutama TikTok. Tapi jangan salah kaprah, cegil bukan istilah yang punya konotasi negative ya, guys. Istilah ini tuh lebih digunakan buat menggambarkan cewek dengan tingkah laku yang ada ada saja bahkan terkadang di luar dugaan ketika sedang jatuh cinta.
Nah, di single ini Nabila Taqiyyah mengulas dan menerjemahkannya dalam suatu sisi positif, di mana ia mengharapkan seseorang yang tengah dikejarnya untuk saling mencintai. “Cerita singkatnya tuh, cewek ini cuman mau sama cowok ini, karena dia udah secinta itu. Udah kecintaan deh, jadinya dia berharap banget si cowok bisa bersama dengan dia untuk selamanya. Kadang kalau sudah jatuh cinta gak bisa dipungkiri pasti kita punya pemikiran pokoknya harus jadi sama si dia,” ujar Nabila Taqiyyah menceritakan tentang single “Cegil” ini.
Uniknya, Nabila Taqiyyah menulis sendiri liriknya, bekerja sama dengan S/EEK sebagai produsernya. “Liriknya ringan dan simpel banget, cerita tentang cinta yang mungkin banyak orang juga relate, khususnya buat cewek cewek,” kata Nabila Taqiyyah. Untuk departemen suara, lagu “Cegil” mengusung warna musik pop ceria di mana banyak beat-beat yang groovy disajikan dalam aransemennya. Musik dan liriknya melebur membuat kesatuan nada yang sangat nyaman untuk didengarkan dan dinikmati.
Sementara, musik videonya dibikin senyaman mungkin terutama dari tone visualnya. Mengambil latar belakang halaman rumah, dengan pemandangan yang asri, membuat musik videonya menyatu dengan alunan musiknya. Nabila Taqiyyah tidak sendiri di musik video “Cegil”. Ia juga ditemani oleh actor yang sedang naik daun yaitu Adzando Davema. Oh ya, musik video “Cegil” ini dikerjakan oleh YGP Films managed by IONZ Creative dengan Yopi Gunawan dan Giri Maulana sebagai sutradaranya.
“Aku berharap lagu ini bisa merepreesentasiskan perasaan juga harapan dari mereka yang tengah merasakan hal yang sama dalam suatu hubungan cinta,” harap Nabila Taqiyyah. So, tunggu apalagi, sih? Langsung aja dengarkan single “Cegil” di semua platform layanan musik digital favorit kalian. Musik videonya bisa dinikmati di akun resmi Nabil Taqiyyah. Enjoy ya, guys!
oridistro.com
www.shazam.com/song/1860772479/cegil
#NabilaTaqiyyah
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Cegil – Nabila Taqiyyah: Song Lyrics, Music Videos & Concerts
www.shazam.com
Listen to Cegil by Nabila Taqiyyah. See lyrics and music videos, find Nabila Taqiyyah tour dates, buy concert tickets, and more! STARGLOW, grup tari dan vokal beranggotakan lima orang yang lahir dari proyek audisi BMSG, THE LAST PIECE, resmi debut dengan single pertama mereka, “Star Wish”.
https://starglow.lnk.to/StarWish
#Avex
#Oridistro
Dony Manurung hadirkan single instrumental “Chimera (SmolChaos)”. Lagu ini menjadi ruang eksplorasi bebas yang mempertemukan imajinasi mitologis, eksperimen sonik, serta kolaborasi lintas karakter musik.
http://tiny.cc/77xx001
#DonyManurung
#Oridistro
Album “Not To Disappear” milik Daughter genap berusia 10 tahun tahun ini. Untuk merayakan momen tersebut, trio Elena Tonra, Igor Haefeli, dan Remi Aguilella membagikan sebuah lagu baru berjudul ‘Not Enough’.
http://tiny.cc/37xx001
#Daughter
#Oridistro
Flowr Pit merilis album debut “Super Possible” melalui Kolibri Rekords. Album ini kumpulan 10 lagu yang terbagi dua bagian yang mencerminkan perjalanan emosional Alfath Arya Nugraha, otak di balik Flowr Pit.
http://tiny.cc/y6xx001
#FlowrPit
#Oridistro
Musisi asal Seoul, HOA, resmi mengumumkan tur Asia bertajuk REVERIE yang akan digelar di delapan kota sepanjang akhir Januari hingga Februari.
http://tiny.cc/u6xx001
#HOA
#Oridistro
Canti, akhirnya kembali dengan single terbarunya yang bertajuk ‘Anggap Aku Ada’. Lagu ini bernuansa R&B yang hangat dan intim serta mengangkat tema tentang jarak emosional dalam sebuah hubungan.
http://tiny.cc/n6xx001
#Canti
#Oridistro
TANJUNG, moniker dari musisi Faishal Tanjung, merilis album terbarunya bertajuk Levitasi. Tidak disusun sebagai narasi linear, Levitasi terasa seperti membuka lembar-lembar terpilih dari jurnal hidup TANJUNG.
http://tiny.cc/k6xx001
#TANJUNG
#Oridistro
The Chasmala hadirkan karya terbaru berjudul “Cinta Tapi Terluka”, sebuah single yang mengangkat realitas pahit hubungan percintaan tidak sehat atau yang akrab disebut toxic relationship di kalangan Gen Z.
http://tiny.cc/i6xx001
#TheChasmala
#Oridistro
Melalui “The Fallen God”, Cloath tegaskan langkah untuk jangkau audiens luas, bangun komunikasi dengan promotor & media, serta perluas jaringan di kancah, tanpa meninggalkan karakter dari scene underground.
http://tiny.cc/g6xx001
#Cloath
#Oridistro
THE FUNERAL PORTRAIT merilis album live, LIVE FROM SUFFOCATE CITY via Better Noise Music. Mereka juga menghadirkan video sinematik untuk lagu ‘Stay Weird’ yang juga dirilis hari ini.
http://tiny.cc/f6xx001
#THEFUNERALPORTRAIT
#Oridistro
Single Keina Suda, “Libera リベラ”. Terkait dengan drama TV Tokyo “We Are Bad Barbers”, lagu ini memadukan energi alt-pop yang energik dengan visual sinematik yang gelap dan disutradarai oleh Mai dari CLAN QUEEN.
http://tiny.cc/g4vx001
#Avex
#Oridistro
Di usia 31 tahun, Ndarboy Genk justru memilih merilis sebuah lagu yang reflektif dan penuh makna. Berjudul “Tak Kancani”, single ini dirilis tepat pada 14 Januari 2026.
http://tiny.cc/e4vx001
#NdarboyGenk
#Oridistro
Yellowcard rilis single radio terbaru, ‘Bedroom Posters’ menampilkan Good Charlotte. Lagu ini merupakan versi kolaborasi & terdapat dalam album mereka tahun 2025, yang juga memuat lagu ‘Better Days’.
http://tiny.cc/84vx001
#Yellowcard
#Oridistro
Anjimile, umumkan album berjudul You’re Free to Go, yang akan dirilis pada 13 Maret 2026 melalui label 4AD. Pengumuman ini disertai dengan perilisan single utama yang bercahaya, “Like You Really Mean It”.
http://tiny.cc/44vx001
#Anjimile
#Oridistro
Carmen Glorya merilis single “Maniez”. Dalam single terbarunya ini, Carmen Glorya berkolaborasi dengan Ira Khayz, dan di produseri oleh Kevin Pangestu, serta di mixing mastering oleh Arif Hardianto.
http://tiny.cc/24vx001
#CarmenGlorya
#Oridistro
Cavetown, nama panggung seniman asal Inggris Robin Skinner, telah merilis album barunya, Running With Scissors, yang kini tersedia via Futures Music Group.
http://tiny.cc/14vx001
#Cavetown
#Oridistro
Penyanyi yang dinominasikan GRAMMY dan pemegang sertifikat Platinum, Madison Beer, merilis album, locket, via Epic Records, bersamaan dengan perilisan video musik resmi untuk single barunya “bad enough.”
http://tiny.cc/x3vx001
#MadisonBeer
#Oridistro
Mitski mengumumkan album studio kedelapannya, Nothing’s About to Happen to Me — dirilis pada 27 Februari via Dead Oceans — dan merilis single utama dan video musiknya, “Where’s My Phone?”.
http://tiny.cc/v3vx001
#Mitski
#Oridistro
Lahir dari reuni tanpa rencana, single ini menjadi penanda bahwa perjalanan The Lips belum berakhir. CHEERS! Telah dirilis pada hari ini 15/01/26.
https://n9.cl/jvzon0
#TheLips
#Oridistro
Grup hip-hop/R&B global XG mengumumkan evolusi berani dalam makna di balik nama mereka, beralih dari “Xtraordinary Girls” menjadi “Xtraordinary Genes”. Pengumuman ini bertepatan dengan Hari Kedewasaan di Jepang.
https://n9.cl/2t0ds
#Avex
#Oridistro
“Aku berharap lagu ini ‘Cegil’ bisa merepreesentasiskan perasaan juga harapan dari mereka yang tengah merasakan hal yang sama dalam suatu hubungan cinta,” harap Nabila Taqiyyah.
http://tiny.cc/8frx001
#NabilaTaqiyyah
#Oridistro

