
ORIDISTRO
Your Criminal Partners
Sunday August 9th, 2026
Band post-pop ambience asal Surabaya, TIGATITIK resmi melepas debut single mereka yang berjudul "Kau Yang Berbeda". Lagu ini menggabungkan cerita cinta emosional dengan aransemen sinematik dan atmosferik.
Lagu ini menggabungkan elemen pop yang familiar di telinga pendengar dengan vokal menghanyutkan dan unsur aransemen shoegaze-y.
"Kami ingin mempertahankan lirik intim dan catchy sebagai kekuatan utama lagu ini, tapi secara teknis kami mencoba memperlambat tempo, memperluas reverb, dan menghasilkan aransemen yang berbeda dari band pop lainnya," ujar band yang beranggotakan Pandu, Rov, dan Benne ini.
"Kau Yang Berbeda" ditulis oleh sang vokalis yaitu Pandu berdasarkan kisah nyata. Sang vokalis dan TIGATITIK mengatakan bahwa lewat debut single ini mereka ingin membawa pendengar menyelami ruang kontemplatif di antara ketukan ritme yang akrab di telinga.
Bersamaan dengan dirilisnya single "Kau Yang Berbeda" di gerai musik digital, TIGATITIK juga merilis music video untuk lagu tersebut. Secara konsep, music video ini menangkap momen magis antara senja dan malam untuk memperkuat emosi yang sudah tertanam pada lagu "Kau Yang Berbeda".
Selamat mendengarkan "Kau Yang Berbeda"
Tentang TIGATITIK
TIGATITIK adalah band asal Surabaya yang terbentuk pada 2024. Saat ini, TIGATITIK beranggotakan Pandu pada vokal, Rov sebagai gitaris, dan Benne sebagai Bassist. Single "Kau Yang Berbeda" merupakan debut TIGATITIK dalam memperkenalkan musikalitas mereka ke industri musik tanah air. TIGATITIK bertekad untuk membawa musik pop kepada pendengar melalui experience yang berbeda dari sebelumnya.
oridistro.com
www.youtube.com/watch?v=WOoSxjYelTA
#TIGATITIK
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
TIGATITIK – KAU YANG BERBEDA (OFFICIAL MUSIC VIDEO)
www.youtube.com
Hai salam kenal, kami trio post-pop dari surabaya. Semoga karya per…Saturday August 8th, 2026
Singer-songwriter dan penyair asal Jakarta Ray Shabir mengumumkan single debutnya “Falling” yang rilis hari ini, 7 Agustus 2026.
“Falling” adalah lagu pertama yang pernah dirilis Ray Shabir, namun bukan hal pertama yang pernah ia buat. Sebagai seorang penulis yang telah menerbitkan karyanya, Ray hadir ke dunia musik dengan suara yang sudah ia temukan: intim, presisi, dan jujur. Musik memang selalu menjadi sesuatu yang ia pertimbangkan, namun tidak pernah benar-benar ia tekuni. Sampai sekarang.
Lagu ini berbicara tentang kebiasaan jatuh cinta — jenis yang terjadi berulang kali dan berubah menjadi spiral setiap kalinya. "Bagiku, jatuh cinta dulu selalu identik dengan jatuh berantakan — berpikir bahwa cinta bisa menyelamatkanmu, padahal justru sebaliknya ketika kamu tidak terlalu menyukai dirimu sendiri," kata Ray. Inilah pertama kalinya ia menyadari dirinya melakukan itu, dan kesadaran itu berubah menjadi sebuah lagu.
Secara sonik, Falling berdiri di persimpangan antara alternative rock dan penulisan lagu yang bersifat sastrawi, dengan hook yang catchy. Diproduseri oleh Bradley Kustiono dari Patras, lagu ini tercipta dengan cukup cepat: "Aku mengirim voice note lagu ini, dan kami membangunnya hanya dalam beberapa jam sebelum aku menulis liriknya."
Yang membuat “Falling” berhasil bukan hanya apa yang dikatakannya, tapi bagaimana lagunya bergerak. Verse-nya terasa visceral dan fisik, sementara chorus-nya membuka sesuatu yang lebih desperate — secara lirik maupun sonik semakin mengambil momentum. Ada rasa urgensi yang mengalir di sepanjang lagu, dan untuk sebuah debut, urgensi itu memang disengaja: “Falling” tidak berusaha memperkenalkan diri perlahan-lahan. Ia langsung membawamu masuk ke dalam diri Ray Shabir sebagai pendatang baru, dan mengundangmu untuk mengikutinya.
“Falling” tersedia di semua platform streaming mulai 7 Agustus 2026.
TENTANG RAY SHABIR
Ray Shabir adalah singer-songwriter dan penulis asal Jakarta, Indonesia. Lewat karya-karya puisinya, ia dikenal dengan tulisan yang intim, dramatis, dan tajam dalam membahas cinta, kehilangan, serta pencarian jati diri. Latar belakang kepenulisannya menjadi landasan yang kuat dalam cara ia menulis lagu: personal, reflektif, dan emosional.
Dalam bermusik, Ray berada di pertemuan antara indie pop yang personal dan penulisan lagu yang puitis. Ia menulis tentang kebahagiaan dan kehilangan dalam napas yang sama, menjadikan keduanya bagian dari pengalaman yang utuh. Sejak kecil, ia tumbuh dengan kecintaan pada musik pop, sekaligus ketertarikan pada penulisan lagu yang diaristik dan berakar pada sensibilitas musik indie. Bagi Ray, lagu—seperti halnya puisi—adalah cara untuk mengingat, sekaligus mengubah pengalaman yang paling pribadi menjadi sesuatu yang dapat dirasakan dan dimiliki bersama.
oridistro.com
open.spotify.com/track/6XCLYXepspWnhJmsuSEMu1
#RayShabir
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersRay Shabir · Falling · Song · 2026 … See MoreSee Less
Saturday August 8th, 2026
Showcase musik alternatif yang mempertemukan musisi, komunitas kreatif, dan kultur suburban akan digelar pada 29 Agustus 2026 di KeWaroeng Bintaro Jaya Sektor 9. Acara ini akan menampilkan penampilan dari Scalopoly, Tailwhip, Conversation Without Talk, dan Supple.
Di tengah perkembangan skena musik independen Indonesia yang semakin beragam, Modern Misfits berkolaborasi dengan Rumah Atraksi untuk menghadirkan Suburban Sessions, sebuah seri showcase musik alternatif yang lahir dari semangat untuk merayakan cerita, suara, dan kreativitas yang tumbuh dari lingkungan suburban.
Suburban Sessions akan diselenggarakan pada 29 Agustus 2026 di KeWaroeng Bintaro Jaya Sektor 9, menghadirkan empat musisi alternatif dengan karakter yang berbeda: Tailwhip, Supple, Conversation Without Talk, dan Scalopoly. Acara ini menjadi ruang pertemuan bagi musisi, komunitas kreatif, dan penikmat musik yang ingin merasakan energi baru dari skena alternatif yang terus berkembang.
Bagi Modern Misfits dan Rumah Atraksi, suburban bukan sekadar lokasi geografis. Suburban adalah pengalaman tentang tumbuh di antara kota besar dan ruang yang lebih tenang, tentang perjalanan pulang malam hari, tempat nongkrong yang menjadi saksi banyak cerita, mimpi besar yang muncul dari lingkungan sederhana, serta generasi muda yang mencari ruang untuk mengekspresikan dirinya.
Keempat penampil di edisi perdana Suburban Sessions mewakili semangat utama Suburban Sessions: mempertemukan berbagai interpretasi musik alternatif dalam satu ruang, tanpa batasan genre yang kaku, tetapi dengan satu kesamaan keinginan untuk menciptakan sesuatu yang jujur dan relevan dengan generasi saat ini.
Selain pertunjukan musik, Suburban Sessions juga membuka ruang kolaborasi bagi berbagai brand lokal dan kreator independen melalui area kreatif yang mempertemukan pengunjung dengan produk, karya, dan ide-ide dari komunitas sekitar.
Bintaro menjadi titik awal dari perjalanan ini. Sebagai salah satu kawasan suburban yang terus berkembang, Bintaro memiliki cerita unik tentang generasi muda yang hidup di antara ambisi kota besar dan keseharian yang lebih dekat. Dari jalanan yang familiar, ruang-ruang kreatif kecil, hingga komunitas yang terbentuk secara organik, Suburban Sessions ingin menangkap energi tersebut dan membawanya ke dalam sebuah pengalaman bersama.
Suburban Sessions bukan hanya sebuah showcase musik, tetapi sebuah perayaan terhadap mereka yang memiliki cerita untuk dibagikan, dan memilih untuk menciptakan ruangnya sendiri.
Suburban Sessions akan berlangsung pada:
Tanggal: 29 Agustus 2026
Lokasi: KeWaroeng Bintaro Jaya Sektor 9
Harga Tiket: Rp. 50,000
oridistro.com
www.instagram.com/p/DbP9tMKz5y1/
#SuburbanSessions
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Saturday August 8th, 2026
Berangkat dari sebuah keinginan untuk membentuk suatu band yang jenaka, dekat dengan dinamika kehidupan sehari-hari, Zakaria hadir sebagai penebar satir ditengah kepelikan hidup.
Perjalanan band yang dibentuk di Probolinggo, Jawa Timur, pada Mei 2019 ini dimulai dari sebagai pengisi acara café. Berpindah-pindah café untuk mengenalkan lagunya sendiri dan masih membawakan lagu milik orang lain. Hingga akhirnya, mereka berhasil merilis sebuah single pada Juli 2019, yang dirilis secara independen dengan judul “Zakaria Song”. Setelah perilisan single itu, band yang mulanya beranggotakan Ophan Indra (Vokalis), Alfianto (Gitar), Toni van Cekotz (Gitar), Radite Purnomo (Bass), dan Arief Boncel (Drum) ini perlahan mulai mendapatkan tempat di hati para pendengarnya. Namun, berita duka menimpa mereka sebab pada 22 Juli 2020, Alfianto jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Setelah 6 tahun berselang, kini Zakaria hadir kembali dengan format yang berbeda, dengan Ophan Indra masih memegang kendali microphone dan Toni van Cekotz pada gitar. Format ini akhirnya menelurkan sebuah karya berbentuk single berjudul “Buah Bibir”. Single ini bercerita tentang realitas paling dekat yang tinggal di kehidupan sehari-hari, dari ceruk kecil di sudut gang, hingga ke hadapan layar televisi. Gosip. Hal yang sangat disukai warga kita, entah itu membicarakan tentang tetangga yang ini dan itu, hingga kehidupan selebritis yang sebenarnya kita tidak perlu tahu. Zakaria mengemas kenyataan itu menjadi sebuah karya yang akan diperdengarkan melalui berbagai digital streaming platform pada tanggal 14 Agustus 2026.
Dengan alunan nada yang santai, petikan gitar yang melengking sederhana namun indah, “Buah Bibir” seolah ingin menunjukkan bahwa pergosipan adalah hal yang telah menjadi budaya yang sangat melekat. Zakaria ingin menunjukkan eksistensinya berasal dari Jawa Timur dengan menggunakan diksi Bahasa Jawa, “rasan-rasan” yang berarti gosip dalam Bahasa Indonesia.
Zakaria yang sederhana, dekat dengan nadir kehidupan sehari-hari, serta aransemen yang sederhana membuat single ini harus kamu perhatikan dan dengarkan sembari bersantai di sore hari, memandang tetanggamu yang mungkin bisa saja sedang mempergunjingmu.
Zakaria mengerjakan single ini di Eighteen Records Studio, dengan Tofan Angga sebagai produser. Single ini sedianya akan dirilis melalui label rekaman indie baru dari Probolinggo, Papaboch Records.
oridistro.com
www.instagram.com/p/DaZOHQxpSmR/
#Zakaria
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Saturday August 8th, 2026
Paruparo kembali menyapa pendengar lewat single terbaru berjudul "Pancake Kisses", sebuah lagu alternative rock dengan balutan melodi upbeat yang terdengar ceria di permukaan, namun menyimpan kisah yang jauh dari kata manis. Lewat rilisan ini, Paruparo ingin mengingatkan bahwa patah hati tidak selalu datang dari peristiwa besar. Terkadang, rasa kecewa justru lahir dari perhatian-perhatian kecil yang ternyata tidak pernah menemukan tempatnya.
Di balik judulnya yang terdengar hangat, "Pancake Kisses" berawal dari pengalaman nyata salah satu personel Paruparo, Hebrew Fransa (Migo). Saat sedang mendekati seseorang, Migo datang membawa martabak manis dan es krim sebagai bentuk perhatian sederhana. Namun belakangan ia mengetahui bahwa perempuan yang ia perjuangkan ternyata telah memiliki orang lain. Perhatian yang ia bawa tidak pernah benar-benar sampai, bahkan menjadi bagian dari cerita orang lain. Dari pengalaman sederhana itulah, Migo menulis bagian chorus yang kemudian dikembangkan bersama Sindy Amani dan Rizky Dzulkifli Rizaldi (Millie) hingga menjadi lagu yang utuh.
Meski lahir dari cerita pribadi, Paruparo percaya pengalaman tersebut bukanlah hal yang asing. Banyak orang pernah berada di posisi yang sama, berusaha dengan tulus, memberi perhatian sepenuh hati, namun pada akhirnya hanya menjadi penonton dalam kisah yang mereka harapkan. Perasaan itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam lirik seperti "Pancake kisses, candy lies, chocolate cheese and Oreo ice" dan "Everything I did all in vain", menggambarkan bagaimana sesuatu yang awalnya terasa manis perlahan berubah menjadi kekecewaan.
Ditulis oleh Hebrew Fransa (Migo), Sindy Amani, dan Rizky Dzulkifli Rizaldi (Millie) serta diproduseri oleh Rizky Dzulkifli Rizaldi, proses penulisan lagu ini berkembang secara alami dari cerita yang dibagikan Migo kepada personel lainnya. Sindy kemudian menyempurnakan bagian verse dan melodi, sementara Millie dan Tera membantu mengembangkan komposisi hingga "Pancake Kisses" menemukan bentuk akhirnya. Hasilnya adalah lagu dengan warna baru bagi Paruparo: terdengar ringan, ceria, dan mudah diingat, tetapi menyimpan cerita yang emosional ketika pendengar mulai memperhatikan liriknya. Konsisten menyampaikan karyanya lewat lagu-lagu bernuansa alternatif rock yang playful, "Pancake Kisses" hadir tanpa meninggalkan ciri khas mereka dalam bercerita. Kontras antara musik yang ceria dan lirik yang menyayat menjadi kekuatan utama lagu ini, mengajak pendengar tersenyum mengikuti melodinya, lalu perlahan menyadari bahwa kisah di baliknya mungkin pernah mereka alami sendiri.
"Pancake Kisses" resmi dirilis pada 7 Agustus 2026 di seluruh platform musik digital. Bersamaan dengan perilisan single ini, Paruparo juga akan merilis video musik pada tanggal 14 Agustus 2026 sebagai bagian dari pengalaman mendengarkan yang lebih utuh, menjadi video musik pertama mereka setelah sebelumnya menghadirkan rilisan-rilisan dengan format video lirik. Melalui "Pancake Kisses", Paruparo berharap para pendengar dapat melihat bahwa patah hati tidak selalu harus hadir dalam cerita yang besar. Kadang, luka justru lahir dari hal-hal yang tampak sederhana—sepotong martabak, perhatian kecil, atau harapan yang diam-diam tumbuh, lalu menghilang begitu saja.
Tentang Paruparo:
Paruparo adalah band indie pop asal Jakarta, Indonesia yang mulai aktif di tahun 2024. Terdiri dari empat anggota multi kreatif: Sindy Amani sebagai vokalis dan song writer, Migo sebagai drummer dan visual director, Tera sebagai gitaris dan fotografer, serta Millie sebagai bassist dan produser musik. Membuat karakter musik dan tampilan Paruparo terasa konsisten. Sejak debut lewat “In My Summer”(2024) hingga rilisan terbaru “Game Over” (2025), "2nd Option" (2025) Paruparo menunjukkan perkembangan yang stabil, baik dari sisi produksi maupun arah musikal.
Keunikan Paruparo terletak pada pendekatan mereka yang playful tapi rapi, serta kemampuan menggabungkan tiap musik yang diciptakan dengan visual yang selaras mengingat personil Paruparo juga merupakan visual director. Dengan progres yang mereka tunjukkan sejauh ini, band ini punya potensi berkembang lebih jauh di skena indie lokal. Mereka mungkin masih baru, tapi langkah dan identitasnya sudah cukup jelas untuk diperhitungkan.
oridistro.com
open.spotify.com/track/2PeNbVhqkRvhrn402jlMlW
#Paruparo
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersParuparo · Pancake Kisses · Song · 2026 … See MoreSee Less
Saturday August 8th, 2026
Trio alt-rock asal Kota Bogor akhirnya menuntaskan dahaga dengan merilis album penuh perdana mereka yang diberi judul “Elusive Things”, masih bersama label rekaman sekota, Tromagnon Records, di tanggal 7 Agustus 2026.
Sebelumnya, band yang beranggotakan Praditya Gumilang / Gilang (Vokal), Galuh Ilham (Gitar), dan Firly Rizkyama (Gitar), telah merilis single “Something in Between” pada tanggal 26 Juni 2026 lalu atau single terbaru pasca rilisnya single perdana mereka “Preserved Frame” di tahun 2022.
Di album penuh perdana ini, mereka bercerita tentang kepingan memori kecil yang tetap bertahan meski segalanya mulai memudar. “Waktu itu, gue merasa hidup itu kan terus berjalan, ya. Nah, selama itu, waktu terus bergulir. Momen baru bermunculan. Ingatan ada yang memudar, ada juga yang bertahan. Memori yang memudar dan memori yang tetep stay, tuh, ada di luar kuasa kita. Cukup aneh, tapi itu yang pengen kita capture,” jelas Firly atau yang kerap disapa Adun.
Adun menambahkan, “Ini adalah menu paling sempurna yang bisa kami buat. Kesannya payah dan gak bisa dijelaskan, makanya kata ‘Elusive Things’ cukup mewakilkan,” kala ditanya perihal makna dibalik judul album.
Mewakili kedua personil yang lain, Adun memaparkan bahwa album ini memang begitu personal bagi band. Diakuinya, “Memori gue ketemu Galuh, bank lagu yang udah berdebu, dan makna lirik yang Gilang bikin, jadi memori yang akan selalu ada di otak gue,” ujarnya.
Selain tema album, diakui para personil, peralihan fase kehidupan menjadi tantangan yang mereka nikmati selama proses penggarapan album ini. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Galuh, “(Proses produksi) sempat terhenti aja karena gak keurus. Masing-masing dari kami pada saat itu sama-sama sedang menghadapi masa peralihan fase hidup. Gilang (waktu itu) menuju menjadi kepala keluarga dan sekarang baru saja menjadi seorang ayah. Adun pindah kerjaan yang malah menjadikannya semakin sibuk. Gue juga lagi proses penyesuaian dengan kerjaan baru. Kalau (waktu itu) diterusin (proses produksi), waktu penggarapannya bisa sebentar harusnya.”
Di momen yang berbeda, Ken Norman, mewakili Tromagnon Records, turut memberikan komentar akan rilisnya album ini, “Ini adalah salah satu milestone, sih, buat kami untuk bisa mengarsipkan Georgia Querer. Nggak berlebihan, lah, kalau kami sebut begitu. Mengingat musik-musik seperti ini, tuh, terakhir dimainkan kayaknya di sekitar 2015-an oleh Tetra dan Hymn. Sebelum tahun itu, bahkan cuma Adopta yang memainkan musik seperti ini, walaupun bentuknya instrumental, ya,” tutupnya.
Album ini berisikan 7 (tujuh) track, yakni: 1) Haul Over The Coals; 2) In Unison; 3) Wine and Parade; 4) Something in Between; 5) Green Jacket; 6) This Train Won’t Take Me Any Further; dan 7) Preserved Frame. Keseluruhan lirik dari album ini ditulis oleh Gilang dan diproduseri oleh Georgia Querer bersama dengan Deni Noviadi yang juga turut andil sebagai record engineer, mixing, dan mastering. Serta Bens n’ Co Records yang tetap menjadi studio pilihan untuk penggarapan album ini.
Kala disinggung mengenai latar belakang Deni Noviadi yang dahulu memainkan musik serupa, Galuh berpendapat, “Senang melihat Wak Denol – sapaan akrab Deni Noviadi – menuangkan perspektif dia terhadap album ini. Seru banget.” Senada dengan Galuh, Adun juga berpendapat, “Asyik pisan. Gue pribadi banyak dapat insight, apa lagi dari segi produksi,” ujarnya.
Selain Deni Noviadi, Muhammad Fadhil Naufal Salam alias Opay, drummer dari band indie-rock kota hujan, Swellow, turut didapuk sebagai drummer session player untuk mengisi 6 (enam) dari 7 (tujuh) lagu yang ada di album ini. Diperkuat dengan Tamara Putri yang mengisi backing vocal untuk lagu Wine and Parade.
Pada sampul kover album, hasil fotografi dari Prasita Elfanda Putri dipercaya untuk menggambarkan suasana album dengan sedikit sentuhan desain grafis dari Firly Rizkyama atau Adun.
oridistro.com
open.spotify.com/album/5NRBjavMwB2H30KrpEhagH
#GeorgiaQuerer
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersGeorgia Querer · album · 2026 · 7 songs … See MoreSee Less
Saturday August 8th, 2026
Setelah "Gerilya Cinta" menceritakan tentang getaran jatuh cinta yang diam-diam menyusup ke hati, Kaleb J kini membuka babak berikutnya dalam EP "Tanda Cinta" lewat single kedua berjudul ‘I Found You’. Lagu ini bukan tentang proses menemukan cinta, melainkan tentang konfirmasi bahwa doa dan impian itu akhirnya terwujud menjadi kenyataan.
"Sebenarnya waktu nulis ‘I Found You’, aku nggak ada kepikiran buat nyambungin ceritanya dari ‘Gerilya Cinta’," ungkap Kaleb J. "Tapi ternyata pas dirunutin, ceritanya nyambung. Dari gerilya cinta, jatuh cinta, sampai akhirnya sadar—dialah orangnya."’I Found You’ lahir dari sebuah momen sendu yang Kaleb J ubah menjadi rasa syukur. Pada sebuah hari ketika ia sedang merenungkan perjuangan cinta di masa lalunya yang belum pernah berhasil, ia memilih untuk tidak larut dalam kesedihan. Sebaliknya, ia menulis sebuah doa untuk masa depan. "Waktu itu aku agak galau karena keingat perjuangan cinta di masa lalu, belum pernah ada yang berhasil," kenangnya. "Tapi daripada sedih mulu, aku lebih memilih untuk bersyukur dan melihat masa depan dengan penuh harapan. Jadi aku nulis lagu tentang harapan dan doaku—kalau emang nanti beneran ada jodohnya."
Lagu ini ditulis bersama Belanegara Abe dan Sumantri Limin—sosok yang Kaleb J sebut sebagai “legend” dalam perjalanannya. Prosesnya berawal dari demo yang Kaleb J garap sendiri di rumah, lalu ia membawanya kepada Abe. "Dia suka. Langsung deh kita garap, tambah Kaleb J, disempurnakan liriknya dan diproses mixing oleh Sumantri Limin—menjadikan ‘I Found You’ sebuah karya yang utuh dari tangan-tangan yang saling percaya.
Secara musikal, ‘I Found You’ kembali ke akar pop R&B yang menjadi ciri khas Kaleb J, lebih familiar dan dekat dengan pendengar yang mengenalnya lewat rilisan-rilisan sebelumnya. Namun, ada satu elemen baru yang sengaja disematkan untuk memperdalam emosi. "Kita kepikiran supaya lebih dalem perasaannya, lebih ngena," jelas Kaleb J. "Jadi kita tambahin instrumen strings. Dan memang betul, pas dengerin tuh rasanya kayak lagi di peluk."
Perpaduan bahasa Indonesia dan Inggris yang seamless di lirik—seperti "Seluas samudera raya / Jiwa hati untukmu, sayang" yang mengalir ke "I will never let you go / By your side on the high and low"—bukan kebetulan. "Ini bikin penyampaian lagunya lebih flavourful," ungkap Kaleb J. "Dan bisa dibilang ini adalah gaya penulisan yang aku suka bikin dari dulu."
Di setiap chorus, Kaleb J mengulang sebuah pengakuan: "Kamu jadi milikku selama lamanya". Bagi Kaleb J, baris itu membawa tiga makna sekaligus. "Itu adalah komitmen, janji, sekaligus doa," tegasnya. "Harapannya, kalau nanti dipertemukan dengan orang yang tepat, hubungan itu bisa terus dijaga dan bertahan selamanya." Dan di bridge, ia menulis sebuah pengorbanan yang tenang namun dalam: "tak ku minta dunia / karena kau lah impian". Bagi Kaleb J, ini bukan tentang menolak dunia—melainkan tentang memahami batas antara kebutuhan dan keinginan.
"Impianku bukan mempunyai seisi dunia, yang kuimpikan adalah mempunyai cinta yang sesungguhnya," jelasnya. "Karena pada akhirnya, kebahagiaan dan rasa tenang adalah hal yang paling berharga dan nggak bisa digantikan oleh apa pun. That is how I see the world." ‘I Found You’ akan disertai dengan video musik yang menggambarkan keseharian sepasang kekasih—bukan kemewahan atau momen spektakuler, melainkan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana yang dijalani berdua setiap hari.
"Cinta sejati bukan tentang kemewahan atau sesuatu yang spektakuler, tapi tentang menemukan kebahagiaan dan rasa tenang dalam hal-hal kecil yang dijalani berdua setiap hari," ungkap Kaleb J. "Dan aku harap hal ini tersampaikan lewat keindahan di music video ‘I Found You’."Kaleb J menolak mempersempit ‘I Found You’ hanya untuk satu kondisi. Bagi yang sudah berpasangan, lagu ini adalah perayaan syukur. Bagi yang masih mencari, lagu ini adalah pengingat bahwa harapan tetap ada.
"Semoga lagu ini bisa buat siapa pun," harapnya. "Buat yang sudah berpasangan, semoga jadi lagu untuk merayakan rasa syukur. Buat yang masih mencari, semoga jadi pengingat bahwa harapan itu tetap ada dan doa-doa baik selalu layak untuk diperjuangkan." Dengan ‘I Found You’, Kaleb J mempertegas bahwa EP "Tanda Cinta" bukan sekadar kumpulan lagu—melainkan sebuah perjalanan naratif yang terus berkembang. Dari getaran pertama di "Gerilya Cinta", kini ia telah sampai pada konfirmasi: *dialah orangnya*.
Dan babak berikutnya? Kaleb J membiarkannya tetap menjadi misteri yang menggoda. "Ada dong, biar seru ikutin aja perjalanannya yaa," tutupnya dengan senyum. "Ga seru kalau langsung di spill." Simak single terbaru Kaleb J, ‘I Found You’, seluruh digital streaming platform
oridistro.com
open.spotify.com/track/0LX1qBJbdv5FsOISBF9g09
#KalebJ
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersKaleb J · I Found You · Song · 2026 … See MoreSee Less
Saturday August 8th, 2026
Setelah merilis mini album “Ate With No Crumbs” di tahun 2024 bersama Ear to Ear, di tahun 2025 Contrecoup merilis beberapa singles sebagai jembatan menuju album penuh mereka yang direncanakan rilis di tahun 2026. Maxi singles Sanity/Suffering dan Clear Sky dipublikasi di tahun 2025 secara digital melalui Youth Generator Records.
Album penuh “Nothing Feels Real” resmi disebarluaskan pada 12 Juni 2026. Ada 11 track di dalam album ini yang bernuansa modern pop punk, melodic punk, dan beberapa atmosfir elemen hardcore.
Di samping tiga lagu yang sudah dipublikasi duluan sebagai singles, ada 7 lagu baru dan 1 remake lagu lama mereka di dalam repertoar rilisan teranyar mereka ini. Ada dua vokalis tamu juga yang terlibat ikut menyumbangkan suara mereka di lagu “Suffering” ada Noe Margaretha dan di lagu “Pause” ada Deny Octariansyah dari Hold It Down.
Secara musik, materi lagu di album ini semakin menunjukan potensial mereka dalam bermusik. Terjadi pendewasaan dari segi produksi dan penulisan lagu yang menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih positif dibanding karya mereka terdahulu. Bisa kita rasakan referensi musik mereka juga semakin kaya di album ini, kita bisa melihat album ini bagai melting pot dari banyak kiblat musik mereka yang memiliki acuan spektrum modern pop punk seperti The Story So Far, Knuckle Puck, Set Your Goals, Save The Days, No Pressure, dll.
Dalam proses produksinya album ini mereka kerjakan secara swadaya dan mandiri. Sesi rekam album ini dikerjakan di High & White Studio dengan Alfian Ramadhani, gitaris dari Contrecoup, bertindak juga sebagai recording engineer. Untuk proses mixing dan mastering, mereka mempercayakan pengerjaannya di Galaxy Records bersama Hilman Muhammad. Sementara dari segi visual, artwork cover dari album ini dikerjakan oleh Akbarshqi.
Kaset dari debut album “Nothing Feels Real” dari Contrecoup bisa dibeli di Blok Semanggi (Palembang) dan bisa didengarkan secara digital dari layanan streaming favoritmu.
Impresi Mendengarkan Album “Nothing Feels Real” dari Contrecoup:
Sensasi mendengarkan Nothing Feels Real mengingatkan saya band-band fenomena tumblrcore (iya pop punk kalau sekarang, itu mah istilah tolol saya saja) pada masanya. Hentakan semi-hardcore, mixingan sonik yang begitu mulus terpoles dan narasi lagu yang humanis nan reflektif. Bisa dibilang Contrecoup mengerjakan PR mereka dengan serius. Seluruh kaidahnya dituntaskan sampai bersih.
Dari "Fall Apart" sampai "Next To Me", bagimu penggemar pop punk macam ini tak akan dikecewakan karena semua begitu tertata rapi dan kohesif. Mungkin terlalu sempurna malah. Namun bagi saya disitu seninya – dimana terminologi ‘punk’ bukanlah hal yang kerap kali bersifat opsional, alternatif atau pun menjadi selalu ‘kiri’. Tapi juga (mungkin) bisa diartikan sebagai keindahan tata sonik yang digubah sedemikian rupa untuk menghantarkan perasaan mereka lewat lagunya.
Sepertinya kalau boleh husnudzon, Contrecoup mengamini konsep yang belakang. Good luck.
oridistro.com
tidal.com/album/527472047
#Contrecoup
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Saturday August 8th, 2026
Gunakan kode referral Sembrani Production saat mendaftar: 6KFS7T9VF2
Daftar sekarang: get.paper.id/Pxn8r56
#paper
#paperid
#sembrani
#sembraniproduction … See MoreSee Less
Kelola Invoice & Pembayaran Bisnis Anda Secara Digital, Simple & Otomatis
www.paper.id
Atur tempo pembayaran bisnis serta kirim & terima pembayaran dengan kartu kredit, invoice juga langsung sah dengan e-Meterai. Coba Sekarang!Friday August 7th, 2026
Setelah sukses dengan album perdananya Berdamai yang banyak berbicara tentang self healing dan self love, Ghea Indrawari kembali menyapa pendengar lewat album keduanya yang bertajuk Rasi Bintang, yang resmi rilis disemua digital platform Di album ini Ghea mengeksplorasi sisi lain manusia saat harus berhadapan dengan cinta dan segala misterinya. Melalui Rasi Bintang, Ghea menghadirkan perjalanan emosional tentang rasa takjub, takut kehilangan, hingga fase life after break up yang dekat dengan realita percintaan generasi masa kini. Pendengar juga akan diajak menikmati semesta baru yang dibangun Ghea melalui visual, cerita, dan musik yang merepresentasikan bahasa cinta generasi sekarang.
Album ini lahir dari sebuah pemikiran sederhana: dalam astrologi maupun astronomi, rasi bintang sering dianggap sebagai petunjuk. Begitu pula cinta terkadang manusia membutuhkan tanda, arah, dan jawaban untuk memahami perasaannya sendiri. “Di alam semesta yang penuh tanda tanya, biarkan rasi bintang menuntun kita dalam cinta.”
Rasi Bintang berisi 9 lagu yang dirangkai seperti perjalanan di bawah langit malam. Setiap lagunya merepresentasikan emosi yang sering dirasakan Gen Z, namun sulit untuk diungkapkan lewat kata-kata. Dengan lirik yang personal dan jujur khas Ghea, album ini diharapkan bisa menjadi tempat pulang bagi siapa saja yang pernah jatuh cinta, kehilangan arah, atau mencoba memahami isi hatinya sendiri.
Di album ini, Ghea juga mengeksplorasi seluruh musikalitasnya dengan warna yang berbeda di setiap lagu. Beberapa lagu bahkan hadir dalam bahasa Inggris, memperlihatkan sisi baru dari Ghea yang lebih berani, intimate, dan eksploratif. Perpaduan tersebut menjadikan album ini terasa fresh namun tetap memiliki identitas yang “Ghea banget”. Album Rasi Bintang tersedia di seluruh digital streaming platform Untuk informasi terbaru mengenai Rasi Bintang, kunjungi:�Spotify, Apple Music, dan seluruh platform streaming digital.
oridistro.com
open.spotify.com/album/3HsjsVPBsqUrND6IjjKGCs
#GheaIndrawari
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersGhea Indrawari · album · 2026 · 9 songs … See MoreSee Less
Friday August 7th, 2026
Band dream pop asal Indonesia, Drizzly, resmi merilis single terbaru mereka berjudul ‘how do i even try?’ pada Juli 2026. Single ini menjadi penanda awal kembalinya Drizzly setelah dua tahun vakum, dan merupakan satu dari sepuluh track lagi di Album penuh mereka yang direncanakan rilis pada 2027. Drizzly beranggotakan empat perempuan asal Jawa Timur dengan Amanda (vokal), Rascillo (drum), Moza (bass), dan Faye (gitar).
‘how do i even try?’ lahir dari pengamatan personal di lingkungan pertemanan Rascillo, drummer Drizzly yang akrab dipanggil Cilo. Melihat teman-teman yang terjebak dalam denial terhadap sesuatu yang sejak awal sudah terasa tidak akan berakhir baik, Cilo mengendapkan keresahan itu hingga akhirnya tertuang menjadi lirik lagu ini.
"Latar belakang how do i even try? ini sebenarnya dari keadaan sekitar Cilo waktu itu, melihat ada temen-temen yang lagi mengalami hal serupa, denial sama sesuatu yang sebenernya udah tau endingnya nggak baik," ujar Cilo. "Terus jadi numpuk di kepala ini kayaknya harus dijadikan sesuatu. Jadilah single pertama ini."
Menariknya, proses penulisan justru membawa Cilo kembali mengenali dirinya sendiri. "Setelah lagu ini jadi draft, baru kerasa sih kalo pernah ada di posisi itu," katanya. Hal ini membuat lagu tidak hanya berbicara soal relasi personal, tapi juga soal kehidupan sehari-hari secara lebih luas — termasuk pentingnya untuk tetap mendengarkan orang-orang di sekitar kita, meski terasa berat untuk melepaskan sesuatu yang disayangi.
Secara garis besar, ‘how do i even try?’ merekam proses berulang kali mencoba merelakan sesuatu yang dicintai, karena pada akhirnya kehilangan adalah sesuatu yang tak terelakkan.
Dari sisi musikalitas, single ini menandai pergeseran arah yang cukup signifikan bagi Drizzly. Jika sebelumnya identik dengan warna dream pop, kali ini Drizzly membawa nuansa shoegaze yang lebih kental, dipadukan dengan dua karakter vokal yang saling mengisi. "Lagu ini masih membawa warna dreamy yang jadi ciri khas Drizzly, tapi kali ini kami mencoba pendekatan yang lebih dinamis dan eksploratif," jelas Cilo. "Aransemennya terasa lebih penuh dengan sentuhan shoegaze yang lebih terasa… menurut kami, lagu ini tetap terdengar seperti Drizzly, tapi menunjukkan sisi baru yang ingin terus kami kembangkan."
Proses produksi melibatkan seluruh personel: Ihun dan Faye menerjemahkan nada awal yang kemudian dikembangkan menjadi vokal oleh Cilo, Faye, dan Manda; Moza mengisi bass; Ayu mengisi keyboard; dengan tambahan masukan dari Dennis Ferdinand selama proses rekaman. Pengaruh musikal pada lagu ini turut dibentuk oleh referensi dari band-band seperti The Milo, Polyester Embassy (Bandung), serta Oeil dan Moon In June (Jepang).
Perjalanan dari demo ke versi final pun mengalami perubahan besar — dari tempo yang jauh lebih lambat menjadi versi yang lebih dinamis seperti sekarang, lengkap dengan riff gitar, melodi, bassline, dan isian keyboard baru.
‘how do i even try?’ dipilih sebagai single pembuka sebelum kehadiran Album Drizzly yang direncanakan rilis pada 2027 berjudul ‘things i couldn’t say out loud’. "Kami merasa how do i even try? merupakan pintu masuk yang tepat untuk EP ini," ungkap tim Drizzly. "Lagu ini cukup mewakili benang merah dari keseluruhan cerita yang ingin kami sampaikan, sekaligus memberikan sedikit gambaran akan arah musikal Drizzly yang sekarang."
Pada akhirnya, ‘how do i even try?’ bukan sekedar jurnal tentang merelakan dan melepaskan, tapi juga menghadirkan vibes yang ingin disampaikan ke pendengarnya. Manda menggambarkan suasana lagu ini dengan sederhana: "Kalau lagu ini adalah warna: Hitam, putih, & biru. Paling enak di dengerin waktu perjalanan pulang kerja pas lagi capek-capeknya & jam 12 malem di kamar posisi sendirian pas nggak bisa tidur. Cocok banget buat nemenin kalau lagi overwhelmed sama past lives."
Single ‘how do i even try?’ dapat dinikmati di seluruh platform streaming musik per 29 Juli 2026. Mungkin sesuai harapan Drizzly, lagu ini bisa membuat kita menemukan paham & refleksi tentang cara melepaskan sesuatu yang kita cintai.
oridistro.com
open.spotify.com/track/118Sytgc76K30IBHz7cYIs
#Drizzly
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersDrizzly · how do i even try? · Song · 2026 … See MoreSee Less
Friday August 7th, 2026
Setelah menempuh perjalanan selama tiga bulan melintasi delapan kota di Pulau Jawa dan Bali, band Rock asal Jakarta, Patras, akan menutup rangkaian tur debut album mereka "Cha Cha Boo!" melalui sebuah Homecoming Showcase bertajuk "Live at the Dungeon". Pertunjukan yang akan berlangsung pada Minggu, 9 Agustus 2026 di Dungeon Pool Lounge, Kemang, Jakarta ini menjadi penutup dari rangkaian tur sekaligus bagian dari perayaan atas perilisan album debut mereka.
Tur ini juga menjadi kesempatan bagi Patras untuk memperkenalkan materi dari Cha Cha Boo! secara langsung kepada pendengar di tiap kota. Di sepanjang rangkaian tur, penampilan langsung grup ini pun berkembang dari satu kota ke kota berikutnya, menghadirkan energi panggung yang semakin kuat seiring mengimbangi intensitas perjalanan, menjadikan setiap kota sebagai bagian dari proses yang membentuk aksi panggung mereka yang semakin solid.
Sebagai kota asal Patras, Jakarta dipilih menjadi titik akhir perjalanan tersebut. Dalam "Live at the Dungeon", Patras akan tampil dengan format yang spesial dengan penambahan sejumlah musisi pendukung, serta aransemen dari tiap lagu yang disiapkan khusus untuk pertunjukan kali ini.
Selain penampilan dari Patras, showcase ini juga menghadirkan Marlina Shinta, Azel RM, Basajan, dan El Karmoya sebagai pembuka. Acara ini dipersembahkan oleh Grassroots dan Magia, dengan dukungan dari Guinness Indonesia sebagai sponsor utama dan Demie Bakmie sebagai sponsor pendukung.
Grassroots & Magia Presents
PATRAS “Live at the Dungeon”
A Homecoming Showcase
Minggu, 9 Agustus 2026
Dungeon Pool Lounge, Jakarta
Marlina Shinta, Basajan, Azel RM, El Karmoya, Patras
Doors Open: 17.00 WIB
FDC: :Rp100.000
Sponsored by: Guinness Indonesia
Supported by: Demie Bakmie
Media Partners: The Maple Media. Pophariini, Mave Magazine Indonesia, Prambors, Deathrockstar, Mustang 88 FM, Synchronize Radio, Bising Kota.
oridistro.com
www.instagram.com/p/DblCva8JxXa/
#Patras
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Friday August 7th, 2026
Pasca peluncuran single pembuka “Chiang Mai (CNX)”, kelompok musik yang mencap diri sebagai “Controlled-Chaos Power Trio” asal Jakarta, Mad Madmen, kini kembali dengan single kedua bertajuk “TAMAK”. Lagu ini menjadi langkah lanjutan dalam rangkaian menuju album penuh kedua mereka yang semakin mempertegas visi musikalitas baru band ini.
Jika single perdana sebelumnya merupakan debut penulisan lagu dari sang drummer, Andika Rahimy, maka “TAMAK” kini membawa sentuhan sang basis/vokalis, Marvin Muhammad, sebagai penulis utama. Melalui album kedua ini, Mad Madmen secara konsisten mengedepankan cetak biru (blueprint) musikalitas mereka yang terbagi ke dalam tiga persona personel:
Kalam mewakili Chaos (Kekacauan)
Marvin mewakili Structured (Keteraturan)
Andika hadir sebagai jembatan melalui Structured-Chaos (Keteraturan yang Kacau)
Namun, pembagian ini ditegaskan bukan sebagai batasan kaku. Mad Madmen tetap memberikan ruang eksplorasi yang cair bagi setiap personel. Meski “TAMAK” ditulis oleh Marvin yang secara persona mewakili Structured, trio ini mengkategorikan lagu tersebut ke dalam wilayah chaotic.
“Kategori persona yang kami rumuskan bukanlah sesuatu yang eksklusif, melainkan satu keutuhan yang dibagi tiga. Hanya karena secara persona dan gaya bermusik saya struktural, bukan berarti saya tidak diizinkan atau tidak bisa menulis lagu yang lebih chaotic,” ujar Marvin.
Kalam menambahkan bahwa proses kreatif ini sering kali melibatkan eksperimen saling meniru gaya satu sama lain. “Bukan sesuatu yang jarang bagi kami untuk berusaha menciptakan lagu dengan menggunakan satu sama lain sebagai referensi. Yang menarik adalah: gaya chaos-nya Marvin akan sangat berbeda dengan gaya chaos saya, begitupun sebaliknya. Namun, output akhirnya akan tetap terdengar seperti Mad Madmen,” jelas Kalam.
Proses Kreatif yang Instingtif dan Politis
Keunikan "TAMAK" juga terletak pada proses produksinya yang menantang. Salah satu keputusan krusial yang diambil adalah perubahan bahasa dalam lirik secara mendadak. “Keputusan untuk mengubah syair dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia sebenarnya sudah ada cukup lama, namun eksekusi penggantiannya baru dilakukan tepat H-3 sebelum harus take vokal,” ungkap Andika.
Keputusan perubahan lirik tersebut memberikan dampak signifikan pada karakter lagu. Bagi Marvin, “TAMAK” secara tidak terduga menjadi salah satu karya mereka yang paling tajam secara narasi. “Entahlah secara sengaja atau tidak, namun lagu ini menjadi salah satu lagu kami yang paling politis.
Lebih dari apapun, mungkin ada hal-hal tertentu yang secara alam bawah sadar mengusik dan meresahkan kami sebagai warga,” tutup Marvin.
Single "TAMAK" kini sudah tersedia di seluruh platform musik digital. Melalui lagu ini, Mad Madmen membuktikan bahwa meski mereka memiliki struktur persona yang jelas, kebebasan kreatif adalah bahan bakar utama yang membuat musik mereka tetap relevan.
Tentang Mad Madmen
Mad Madmen adalah trio musik asal Jakarta yang dibentuk pada tahun 2018. Band ini beranggotakan Kalam Mahardhika (Gitar/Vokal), Marvin Muhammad (Bass/Vokal), dan Andika Rahimy (Drum/Vokal Latar).
Dinamika musik Mad Madmen bermain pada perpaduan ritme dan melodi yang kompleks, beriringan dengan berbagai elemen idiomatis yang semuanya disatukan oleh sesi jamming yang panjang.
Secara kolektif, Mad Madmen mengidentifikasi diri mereka sebagai sebuah "Controlled-Chaos Power Trio". Repertoar Mad Madmen menegaskan bahwa mereka tidak ingin patuh pada genre tertentu; mereka justru sangat menekankan konteks naratif yang dekat dengan para personelnya, serta elemen kejutan di sepanjang lagu mereka—seperti perubahan nada (key) dan tempo yang tiba-tiba, hingga pergeseran nuansa secara mendadak.
Mad Madmen adalah bagian dari roster manajemen artis Amerta Music Project (AMP).
Tentang AMP
AMP, sesuai dengan namanya, hadir untuk mengamplifikasi (memperkuat) segala jenis musik beserta seluruh elemen di dalamnya. Kami adalah solusi bagi para musisi yang ingin karya mereka didengar, sekaligus bagi merek (brand) atau sponsor yang membutuhkan ide-ide segar untuk terhubung dengan komunitas. Kami melihat sponsor sebagai bagian penting dari keberlanjutan (sustainability), sementara komunitas adalah nilai terbesar dalam jangka panjang.
Di Indonesia, hubungan antara brand dan komunitas adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Kemampuan kami untuk mendengar dan mencocokkan kebutuhan dari kedua belah pihak telah menjadi fondasi kuat yang kami andalkan demi menjaga keseimbangan. Sama seperti brand yang bekerja sama dengan agensi kreatif, AMP hadir sebagai pemain jenis baru di industri musik — yaitu sebagai sebuah Entertainment Provider (Penyedia Hiburan).
oridistro.com
open.spotify.com/track/5BonYT6dM76PrprdPxBQh9
#MadMadmen
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersMad Madmen · TAMAK · Song · 2026 … See MoreSee Less
Friday August 7th, 2026
&BODEVAN kembali merilis single terbaru berjudul ‘Terlebih’ pada 7 Agustus 2026. Setelah terakhir merilis EP ‘Mencari-Menemukan’ pada November 2024, single ini menjadi penanda konsistensi &BODEVAN dalam proses bermusiknya. Lagu ini juga menjadi pembuka menuju album penuh pertama &BODEVAN yang akan dirilis pada tahun 2027 nanti.
Pesan utama dari lagu ‘Terlebih’ bercerita tentang harapan dan doa bersama pasangan yang kita cintai. Tahap mencintai untuk kedua kalinya. Tahap di mana kita mencintai segala bentuk kekurangan dari pasangan kita. Tahap di mana kita juga sadar akan segala kekurangan yang kita miliki, dan tahap di mana kata kompromi menjadi esensi dalam sebuah hubungan. Nuansa yang dibangun di lagu ini juga penuh dengan kehangatan dan cinta.
Kemasan lagu ini sangat kaya dengan nuansa 80-an yang terinspirasi dari beberapa karya seperti ‘Forget Me Nots’ milik Patrice Rushen, ‘The Most Beautiful Girl In The World’ milik Prince, dan puluhan karya seorang Michael Jackson. Bahkan beberapa album 2000-an yang mengembalikan era itu, salah satunya seperti ‘Random Access Memories’ milik Daft Punk, juga turut andil memberikan pengaruh pada proses terciptanya lagu ini. Aplikasi era 80-an bisa langsung terdengar dari beberapa synth ikonik di era itu seperti Juno-106, Juno-60, Korg Mono/Poly, hingga lush guitar atau 80s clean tone. Semua unsur 80-an ini digarap dan dikombinasikan dengan proses dan bunyi-bunyian modern seperti layered vocals, saturated drums, hingga keterlibatan Artificial Intelligence (AI) dalam analisis kreatif.
Berbeda dengan dua EP sebelumnya, single “Terlebih” juga menjadi pembuka era baru untuk &BODEVAN. Selain menjadi penulis lagu, vocalist, dan bassist, Alif Mangkunegara juga bertindak sebagai producer untuk single ini. Dibantu oleh Samuel Paul Gerald sebagai recording producer sekaligus drummer, Vito Jr. sebagai guitarist, Nino Bukir sebagai percussionist, Redinka Nahumury sebagai keyboardist dan backing vocal, Karina Christy sebagai vocal director, dan Rhesa Aditya sebagai mixing and mastering engineer.
Lewat lagu ‘Terlebih’, &BODEVAN mengajak para pendengar untuk merayakan kebersamaan, bermimpi bersama, merawat, dan menua bersama dengan pasangan yang kita cintai.
oridistro.com
open.spotify.com/track/2SPZZrrbfelfuxVk0Rybst
#&BODEVAN
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersUnd Bodevan · Terlebih · Song · 2026 … See MoreSee Less
Friday August 7th, 2026
Jakarta bukan hanya kota tujuan, tetapi juga tempat di mana banyak mimpi dimulai. Setiap tahunnya, ribuan anak muda datang meninggalkan kampung halamannya untuk mengejar pendidikan, pekerjaan, maupun masa depan yang mereka impikan. Di balik perjalanan tersebut, ada ruang-ruang sederhana yang menjadi saksi proses bertumbuh mereka—sebuah kos, kontrakan, atau apartemen kecil yang perlahan terasa seperti rumah.
Pengalaman itulah yang menjadi inspirasi Building, single terbaru dari Atlesta.
Ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya saat meninggalkan Malang dan memulai hidup baru di Jakarta, Building merekam dinamika kehidupan di sebuah kos yang dihuni oleh orang-orang dengan latar belakang, mimpi, dan perjuangan yang berbeda. Di tempat itu, orang-orang asing dipertemukan oleh satu alamat, berbagi ruang, mendengar cerita dari balik dinding, hingga perlahan tumbuh bersama.
Alih-alih meromantisasi kehidupan di kota besar, Building justru merayakan realitas keseharian yang sering kali luput dari perhatian. Obrolan larut malam, suara dari kamar sebelah, teman yang datang tanpa diundang, hingga momen-momen kecil yang akhirnya menjadi kenangan, semuanya hadir sebagai potongan cerita yang membentuk makna lagu ini.
Kalimat "We are growing as we go" menjadi pesan utama yang ingin disampaikan Atlesta. Sebuah pengingat bahwa tidak ada yang benar-benar siap menghadapi kehidupan, namun setiap orang terus belajar dan bertumbuh melalui pengalaman yang dijalani bersama.
Keaslian cerita tersebut semakin terasa melalui bagian penutup lagu, ketika suara para penghuni kos yang sebenarnya ikut hadir memperkenalkan diri mereka satu per satu. Momen ini bukan sekadar elemen artistik, melainkan dokumentasi nyata dari orang-orang yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Atlesta selama tinggal di Jakarta.
Melalui Building, Atlesta menghadirkan sebuah lagu yang tidak hanya menceritakan kisah pribadinya, tetapi juga merepresentasikan pengalaman banyak anak muda yang pernah meninggalkan rumah demi membangun masa depan. Sebuah pengingat bahwa rumah tidak selalu tentang tempat kita berasal, melainkan tentang orang-orang yang tumbuh bersama kita di sepanjang perjalanan.
Building kini telah tersedia di seluruh layanan streaming digital.
oridistro.com
open.spotify.com/track/3KeW6p83GJwuNUfegAGH1m
#Atlesta
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersAtlesta · Building · Song · 2026 … See MoreSee Less
Friday August 7th, 2026
Setelah membangun dunia musikal mereka melalui “Am I Loving You Alone?” dan “Momentary Pleasure”, The Midnight Darlings kini membuka babak baru. Mereka baru saja mengumumkan jadwal perilisan album debut mereka yang akan segera keluar pada September mendatang. Trio Vanesha Prescilla, Jevin Julian, dan Aldrienko Pakusadewo sudah mengumumkannya melalui akun Instagram resmi mereka.
Namun, The Midnight Darlings masih terus menyapa industri musik Indonesia lewat “Semu”, single pertama mereka yang ditulis sepenuhnya dalam bahasa Indonesia. Berbeda dari karya-karya sebelumnya yang banyak bermain di ruang nostalgia dan romansa remaja, “Semu” lahir dari sebuah kisah nyata tentang cinta yang bertahan begitu lama, namun akhirnya harus kandas bukan karena hilangnya perasaan, melainkan karena keadaan yang tak bisa dikendalikan.
Lagu ini terinspirasi dari pengalaman seorang sahabat dekat Jevin Julian yang menjalin hubungan selama tujuh tahun secara diam-diam karena restu keluarga tak pernah datang. Di tengah perjuangannya mempersiapkan masa depan bersama sang kekasih, kenyataan justru berkata lain. Sebuah keputusan keluarga membuat hubungan yang telah diperjuangkan bertahun-tahun harus berakhir dalam sekejap. Dari cerita yang didengar langsung itu, Jevin menuliskan “Semu” sebagai potret tentang harapan yang perlahan memudar, ketika cinta saja ternyata tidak selalu cukup untuk menyatukan dua orang.
oridistro.com
soundcloud.com/themidnightdarlings/semu
#TheMidnightDarlings
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Thursday August 6th, 2026
Setiap penggemar pasti ingat momen saat menemukan sosok artis yang mengubah segalanya. "Gotcha" bercerita tentang momen pertemuan antara artis dan penggemarnya.
Menjelang *showcase* debut mereka di Nippon Budokan pada 31 Agustus, VIBY merilis "Gotcha", sebuah lagu *dance* bernuansa musim panas yang dipersembahkan khusus untuk komunitas penggemar mereka, TOMO. Ditulis sebagai perayaan ikatan antara artis dan penggemar, lagu ini menangkap kegembiraan saat akhirnya menemukan orang-orang yang membuatmu merasa telah menemukan tempat di mana kamu benar-benar diterima.
Judul lagu ini memiliki makna ganda. "Gotcha" adalah ungkapan bahasa Inggris yang akrab untuk menyatakan "aku menemukanmu" atau "aku mendapatkanmu", sekaligus terinspirasi dari keseruan mainan kapsul *gachapon*; sebuah situasi di mana hal yang awalnya bermula dari faktor kebetulan, entah bagaimana berubah menjadi pertemuan yang justru sangat dinanti-nantikan. Gagasan inilah yang menjadi inti lagu tersebut, mengubah pertemuan singkat menjadi sesuatu yang terasa seperti takdir.
Dengan irama *dance* yang memikat dan energi musim panas yang ceria, "Gotcha" mengusung konsep yang disebut VIBY sebagai "Feel Good Pop". Lagu ini memadukan melodi yang *catchy*, ritme ringan, nada gitar yang menyegarkan, serta *synth* yang tertata apik—semuanya dirancang agar terasa santai dan mengalir, bukan berat ataupun intens. Lagu ini diciptakan untuk menjadi *soundtrack* bagi tonggak pencapaian terbesar VIBY sejauh ini. Lebih dari sekadar lagu untuk penggemar, "Gotcha" merupakan ajakan bagi TOMO untuk merayakannya bersama grup tersebut, menangkap kegembiraan bersama saat berdiri di tempat yang sama setelah menempuh perjalanan dari titik awal yang berjauhan.
Video musik ini direkam di Hokkaido Greenland, tepatnya di dalam taman hiburan yang baru dibuka bernama "VIBY LAND". Pada acara pembukaannya, kelima anggota memulai misi untuk menemukan "TOMO si anak anjing"—sebuah pencarian yang membawa mereka pada pertemuan takdir dengan TOMO. Saat grup dan para penggemar bersama-sama menjalani berbagai peristiwa tak terduga hari itu, video ini memuncak pada sebuah janji yang hangat dan sederhana: menjadi sahabat, selamanya.
Saat VIBY tampil di panggung Budokan pada tanggal 31 Agustus, "Gotcha" akan menjadi salah satu momen paling berkesan malam itu, mengubah pesan lagu tersebut menjadi sesuatu yang dirasakan bersama oleh grup dan para penggemar yang menjadi inspirasinya.
Ceria, penuh energi, dan membuat siapa pun tak tahan untuk tidak ikut bergerak, "Gotcha" menghadirkan segala hal yang diharapkan dari sebuah lagu musim panas, sekaligus membawa pesan yang sangat menyentuh hati di balik melodi utamanya yang begitu mudah melekat di ingatan. Lagu ini menjadi pengingat bahwa sebagian hubungan paling bermakna dalam hidup bermula dari satu pertemuan tak terduga.
Salah satu anggota, IO, mendeskripsikan lagu ini secara langsung: "’Gotcha’ adalah lagu persembahan dari kami semua di VIBY untuk kalian semua di TOMO. Ini adalah cara kami mengucapkan terima kasih—karena telah menemukan kalian masing-masing, dan karena kami berlima telah dipertemukan satu sama lain sebagai sebuah grup. Lirik ‘Akhirnya aku menemukanmu, di antara semua orang’ mencerminkan harapan kami untuk terus melangkah bersama TOMO mulai saat ini. Lagu ini juga menjadi awal dari kisah yang bermuara pada pertunjukan debut kami di Nippon Budokan, ‘VIBY LAND’. Kami berharap kalian akan mendengarkan ‘Gotcha’ berulang kali dan menikmati dunia ‘VIBY LAND’ bersama kami."
Bagi VIBY, pertemuan itu terjadi dengan TOMO. Bagi siapa pun yang baru pertama kali membaca tulisan ini, nah, itulah sebenarnya inti dari lagu tersebut. *Gotcha*.
Tentang VIBY
VIBY adalah grup pria (*boy group*) Jepang beranggotakan lima orang remaja yang dibentuk dengan mengusung konsep "voyage" (perjalanan). Berbeda dari kebanyakan grup, para anggotanya tidak memulai langkah dengan mengejar impian yang sama sejak awal; mereka dipertemukan oleh seorang produser asing, datang dari berbagai daerah dan latar belakang yang berbeda, dan kini bersama-sama mengarungi perjalanan menuju masa depan.
Anggota:
IO – lahir 25 Januari 2007, usia 19 tahun, asal Kyoto
RENKI – lahir 15 Oktober 2007, usia 18 tahun, asal Hyogo
AKITO – lahir 6 Februari 2008, usia 18 tahun, asal Hokkaido
RYOHA – lahir 22 April 2009, usia 17 tahun, asal Ishikawa
KOTARO – lahir 21 November 2010, usia 15 tahun, asal Hokkaido
Mereka memulai debut pada 24 Juni 2026 dengan singel CD pertama mereka, "Miracle: The First Light". Momentum mereka sudah terbangun pesat bahkan sebelum itu: video musik untuk lagu pra-debut mereka, "Koi ni Ochitara", telah melampaui 10 juta penayangan. Memanfaatkan momentum tersebut, VIBY menggelar *showcase* debut bertajuk "VIBY LAND" di Nippon Budokan pada 31 Agustus—hanya berselang dua bulan lebih sedikit setelah debut—sebuah pencapaian waktu yang sangat cepat untuk ukuran tempat pertunjukan sebesar itu.
Singel digital ketiga mereka, "Gotcha", dirilis pada 5 Agustus 2026 menjelang *showcase* tersebut, dan lagu ini dirancang untuk menjadi momen di mana para penggemar dapat menyaksikan lompatan kemajuan mereka secara langsung.
oridistro.com
www.kkbox.com/tw/tc/album/OsCwKgEoqcVQaSZneQ
#Avex
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersVIBY的專輯「Gotcha」在這裡,快打開 KKBOX 盡情收聽。 … See MoreSee Less
Thursday August 6th, 2026
Di tengah padatnya jadwal para anggotanya—Eka Gustiwana yang sibuk bersama kolektif label Introvrt, Roy CDC dengan rangkaian tur di Australia dan Malaysia, serta Reza Arap yang sibuk dengan gelaran live Piala AFF 2026 sekaligus bersiap menuju perilisan film Harusnya Horor—grup musik elektropop ternama, Weird Genius, resmi mengakhiri masa hiatus mereka.
Kabar ini terkonfirmasi lewat unggahan terbaru di akun Instagram resmi Weird Genius. Dalam unggahan tersebut, Eka Gustiwana, yang selalu memegang peran kunci sebagai arranger, tampak sedang memandu (direct) seorang vokalis di studio rekaman. Momen ini sekaligus menjadi langkah awal menuju proyek album terbaru Weird Genius yang telah lama dinantikan para penggemar.
Unggahan tersebut langsung memicu antusiasme luar biasa. Pertanyaan besar kini menyelimuti publik dan para fans: Siapakah sosok vokalis misterius di balik mikrofon tersebut, dan kapan album penuh mereka akan resmi diluncurkan?
Satu hal yang pasti, penantian untuk melihat kembali Eka Gustiwana, Roy CDC, dan Reza Arap beraksi bersama dalam satu panggung akan segera terobati. Weird Genius dijadwalkan akan memberikan kejutan spesial dan memulai babak baru perjalanan musik mereka pada 19 Agustus 2026.
oridistro.com
music.youtube.com/@WeirdGeniusMusic
#weirdgenius
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
music.youtube.com
Thursday August 6th, 2026
Di usia yang baru menginjak 14 tahun, musisi jazz asal Bali Jesse Adiputra memperkenalkan karya debutnya melalui interpretasi atas “Caravan”, salah satu jazz standard paling berpengaruh dalam sejarah musik jazz. Alih-alih menghadirkan aransemen yang rumit, Jesse memilih pendekatan yang jujur dan autentik, menempatkan musikalitas, spontanitas, serta karakter permainannya sebagai fokus utama.
Ditulis oleh Juan Tizol dan Duke Ellington, “Caravan” pertama kali diperkenalkan pada tahun 1936 dan sejak itu menjadi salah satu komposisi paling ikonik dalam repertoar jazz dunia. Dengan nuansa eksotis, ritme yang dinamis, dan ruang improvisasi yang luas, lagu ini telah diinterpretasikan oleh berbagai generasi musisi jazz dan menjadi tolok ukur kemampuan musikal seorang pemain.
Melalui versinya, Jesse berusaha menangkap semangat tersebut tanpa kehilangan identitas pribadinya. Seluruh instrumen yang terdengar dalam rekaman, seperti drum, bass, dan gitar, dimainkan sendiri olehnya. Tidak hanya itu, Jesse juga menangani proses perekaman secara mandiri sebagai operator rekaman. Keterlibatan penuh dalam setiap tahap produksi menjadi bagian dari proses belajarnya untuk memahami musik secara lebih mendalam sekaligus membangun identitas artistik sejak dini.
Pendekatan yang sama diterapkan pada aspek visual. Video penampilan yang akan dirilis melalui YouTube, beserta potongan konten untuk media sosialnya, direkam menggunakan konsep single-angle pada masing-masing instrumen tanpa perpindahan kamera maupun penyuntingan yang berlebihan. Konsep minimalis ini dipilih untuk mempertahankan nuansa organik, sehingga penonton dapat merasakan energi, dinamika, dan interaksi musikal sebagaimana layaknya menyaksikan sebuah pertunjukan secara langsung.
Debut ini bukan sekadar sebuah cover dari komposisi klasik, melainkan dokumentasi awal perjalanan seorang musisi muda yang memilih bertumbuh melalui eksplorasi, disiplin, dan kecintaannya terhadap jazz. Dengan mengawali langkah melalui salah satu karya paling bersejarah dalam musik jazz, Jesse Adiputra menunjukkan keberanian untuk belajar langsung dari tradisi, sekaligus mulai membentuk suara musikalnya sendiri.
“Caravan” tersedia di kanal YouTube resmi Jesse Adiputra beserta rangkaian konten pendukung yang mendokumentasikan proses dan penampilannya, menandai awal perjalanan seorang talenta muda Bali yang patut untuk disimak.
JESSE ADIPUTRA — SHORT BIO:
Jesse Adiputra adalah musisi jazz berusia 14 tahun asal Bali yang tumbuh dengan kecintaan pada musik jazz. Sejak usia dini, ia mengembangkan kemampuannya sebagai multi-instrumentalis dengan memainkan drum, gitar, dan bass. Ketertarikannya pada jazz standard dan improvisasi membawanya untuk terus belajar dan mengeksplorasi berbagai warna musik. Bagi Jesse, musik bukan sekadar tentang memainkan nada, melainkan cara untuk bercerita dan menyampaikan perasaan.
oridistro.com
open.spotify.com/track/2dgsts58n88WJLHxhQojLn
#JesseAdiputra
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartnersJesse Adiputra · Caravan · Song · 2026 … See MoreSee Less
Thursday August 6th, 2026
Musisi reggae / solois asal Pasuruan, Madame Whimpsy, akan merilis single kolaborasi bersama King Masmus bertajuk "Durian" pada 14 Agustus 2026 melalui DoggyHouse Records, label independen yang dikelola oleh grup legendaris Shaggydog. Di balik judulnya yang terdengar sederhana dan jenaka, lagu ini menghadirkan narasi yang memadukan kampanye sosial, identitas budaya lokal, hingga refleksi mengenai cara manusia memandang perbedaan.
Berawal dari Persahabatan dan Kesamaan Visi Bermusik
Kolaborasi tersebut lahir dari hubungan pertemanan yang telah terjalin cukup lama. Madame Whimpsy dan King Masmus kerap berdiskusi mengenai berbagai isu sosial, berangkat dari kesamaan visi bahwa musik dapat menjadi medium untuk menyampaikan gagasan secara dekat dan relevan kepada masyarakat.
Pada tahap awal, Madame Whimpsy menawarkan konsep lagu yang mengangkat kampanye penghentian praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak, sebuah isu yang dekat dengan latar belakangnya sebagai seseorang yang tumbuh di kawasan pesisir. Namun, seiring berkembangnya proses kreatif, keduanya sepakat bahwa proyek ini perlu menjadi ruang pertemuan dua karakter musikal yang berbeda.
Madame Whimpsy tetap mempertahankan identitasnya sebagai musisi yang konsisten mengangkat isu-isu sosial, sementara King Masmus menghadirkan pendekatan lirik yang ringan, jenaka, dan sarat metafora. Perpaduan dua perspektif tersebut kemudian melahirkan identitas baru dalam "Durian".
Inspirasi judul lagu justru muncul dari momen yang sangat spontan. Setelah berbincang lebih dari satu jam melalui sambungan telepon tanpa membahas materi lagu secara serius, King Masmus berpamitan karena seorang temannya datang membawa buah durian. Percakapan sederhana itu kemudian memantik sebuah gagasan baru.
Madame Whimpsy langsung teringat pada Durian Kasmin, salah satu komoditas khas Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, yang dinilainya layak kembali diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan pangan lokal Indonesia. Tak lama setelah percakapan berakhir, ia mengirim satu pesan singkat kepada King Masmus. "DURIAN, King." Balasan yang diterimanya pun sama singkatnya. "Okay."
Sejak saat itu, konsep lagu berkembang menjadi sebuah metafora yang lebih luas. Bagi keduanya, durian bukan sekadar buah, melainkan simbol tentang bagaimana manusia sering kali menilai sesuatu hanya berdasarkan persepsi. Aroma durian yang kerap diperdebatkan bahkan dilarang di berbagai ruang publik menjadi gambaran bahwa setiap orang memiliki sudut pandang dan preferensi yang berbeda. "Bau itu seperti rupa. Semuanya relatif," kata Madame Whimpsy.
Lagu ini juga menghadirkan simbol lain yang berkaitan dengan perempuan. Jika selama ini belahan durian sering diasosiasikan sebagai metafora tubuh perempuan, Madame Whimpsy justru melihat buah tersebut sebagai representasi perempuan secara utuh: bernilai tinggi, dijuluki King of Fruits, memiliki kulit keras dan berduri, tetapi menyimpan kelembutan di dalamnya. Sebuah pengingat bahwa perempuan dapat menjadi sosok yang tegas dalam prinsip sekaligus lembut dalam hati.
Perspektif tersebut kemudian melahirkan salah satu penggalan lirik paling khas dalam lagu ini: "Ini Durian! Bukan Pisang Mas!"
Kalimat tersebut menjadi penegasan identitas sekaligus ajakan agar setiap individu dihargai berdasarkan jati dirinya, bukan melalui perbandingan dengan orang lain.
Proses kreatif "Durian" berlangsung secara organik. Madame Whimpsy dan King Masmus menulis bagian lirik masing-masing sesuai karakter yang mereka miliki. Meski ide utama telah lahir jauh sebelumnya, keseluruhan lirik baru selesai ditulis hanya beberapa jam sebelum sesi rekaman berlangsung.
Sekitar pukul tiga dini hari, keduanya mulai menyusun lirik secara utuh. Sembilan jam kemudian, tepat sekitar pukul dua belas siang, mereka telah memasuki studio untuk merekam lagu tersebut.
Dari sisi produksi, pondasi aransemen dikerjakan oleh Madame Whimpsy bersama Rizki Alfiansya di Geranium Studio. Proses mixing dan mastering ditangani oleh Rizki Alfiansya, sementara artwork digarap oleh Arman. Seluruh materi kemudian mengalami berbagai penyempurnaan bersama King Masmus agar identitas musikal keduanya dapat menyatu secara utuh.
Tantangan terbesar dalam produksi datang dari keterbatasan waktu dan jarak. Kesempatan bertemu secara langsung sangat terbatas, sehingga setiap sesi harus dimanfaatkan secara maksimal, mulai dari penyusunan lirik, penyempurnaan aransemen, hingga proses rekaman.
Secara musikal, "Durian" juga menghadirkan pendekatan yang ringan dan mudah diingat melalui penggunaan frasa "Cetakcetingtong" sebagai pengisi bagian reff.
Frasa tersebut menjadi elemen khas yang memperkuat nuansa humor ala King Masmus sekaligus mempertahankan karakter Madame Whimpsy yang kerap
menyampaikan pesan-pesan penting melalui pendekatan yang santai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar lagu, "Durian" menjadi titik temu antara kampanye sosial, humor, identitas budaya, serta kecintaan terhadap potensi lokal Pasuruan. Melalui karya ini, Madame Whimpsy dan King Masmus berharap pendengar tidak hanya menikmati musiknya, tetapi juga menangkap pesan bahwa setiap perbedaan layak dihargai, serta bahwa kekayaan daerah seperti Durian Kasmin dari Lumbang patut memperoleh ruang yang sama besarnya dalam kebanggaan masyarakat Indonesia.
oridistro.com
www.youtube.com/@madameWhimpsy
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Thursday August 6th, 2026
Musisi reggae / solois asal Pasuruan, Madame Whimpsy, akan merilis single kolaborasi bersama King Masmus bertajuk "Durian" pada 14 Agustus 2026 melalui DoggyHouse Records, label independen yang dikelola oleh grup legendaris Shaggydog. Di balik judulnya yang terdengar sederhana dan jenaka, lagu ini menghadirkan narasi yang memadukan kampanye sosial, identitas budaya lokal, hingga refleksi mengenai cara manusia memandang perbedaan.
Berawal dari Persahabatan dan Kesamaan Visi Bermusik
Kolaborasi tersebut lahir dari hubungan pertemanan yang telah terjalin cukup lama. Madame Whimpsy dan King Masmus kerap berdiskusi mengenai berbagai isu sosial, berangkat dari kesamaan visi bahwa musik dapat menjadi medium untuk menyampaikan gagasan secara dekat dan relevan kepada masyarakat.
Pada tahap awal, Madame Whimpsy menawarkan konsep lagu yang mengangkat kampanye penghentian praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak, sebuah isu yang dekat dengan latar belakangnya sebagai seseorang yang tumbuh di kawasan pesisir. Namun, seiring berkembangnya proses kreatif, keduanya sepakat bahwa proyek ini perlu menjadi ruang pertemuan dua karakter musikal yang berbeda.
Madame Whimpsy tetap mempertahankan identitasnya sebagai musisi yang konsisten mengangkat isu-isu sosial, sementara King Masmus menghadirkan pendekatan lirik yang ringan, jenaka, dan sarat metafora. Perpaduan dua perspektif tersebut kemudian melahirkan identitas baru dalam "Durian".
Inspirasi judul lagu justru muncul dari momen yang sangat spontan. Setelah berbincang lebih dari satu jam melalui sambungan telepon tanpa membahas materi lagu secara serius, King Masmus berpamitan karena seorang temannya datang membawa buah durian. Percakapan sederhana itu kemudian memantik sebuah gagasan baru.
Madame Whimpsy langsung teringat pada Durian Kasmin, salah satu komoditas khas Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, yang dinilainya layak kembali diperkenalkan sebagai bagian dari kekayaan pangan lokal Indonesia. Tak lama setelah percakapan berakhir, ia mengirim satu pesan singkat kepada King Masmus. "DURIAN, King." Balasan yang diterimanya pun sama singkatnya. "Okay."
Sejak saat itu, konsep lagu berkembang menjadi sebuah metafora yang lebih luas. Bagi keduanya, durian bukan sekadar buah, melainkan simbol tentang bagaimana manusia sering kali menilai sesuatu hanya berdasarkan persepsi. Aroma durian yang kerap diperdebatkan bahkan dilarang di berbagai ruang publik menjadi gambaran bahwa setiap orang memiliki sudut pandang dan preferensi yang berbeda. "Bau itu seperti rupa. Semuanya relatif," kata Madame Whimpsy.
Lagu ini juga menghadirkan simbol lain yang berkaitan dengan perempuan. Jika selama ini belahan durian sering diasosiasikan sebagai metafora tubuh perempuan, Madame Whimpsy justru melihat buah tersebut sebagai representasi perempuan secara utuh: bernilai tinggi, dijuluki King of Fruits, memiliki kulit keras dan berduri, tetapi menyimpan kelembutan di dalamnya. Sebuah pengingat bahwa perempuan dapat menjadi sosok yang tegas dalam prinsip sekaligus lembut dalam hati.
Perspektif tersebut kemudian melahirkan salah satu penggalan lirik paling khas dalam lagu ini: "Ini Durian! Bukan Pisang Mas!"
Kalimat tersebut menjadi penegasan identitas sekaligus ajakan agar setiap individu dihargai berdasarkan jati dirinya, bukan melalui perbandingan dengan orang lain.
Proses kreatif "Durian" berlangsung secara organik. Madame Whimpsy dan King Masmus menulis bagian lirik masing-masing sesuai karakter yang mereka miliki. Meski ide utama telah lahir jauh sebelumnya, keseluruhan lirik baru selesai ditulis hanya beberapa jam sebelum sesi rekaman berlangsung.
Sekitar pukul tiga dini hari, keduanya mulai menyusun lirik secara utuh. Sembilan jam kemudian, tepat sekitar pukul dua belas siang, mereka telah memasuki studio untuk merekam lagu tersebut.
Dari sisi produksi, pondasi aransemen dikerjakan oleh Madame Whimpsy bersama Rizki Alfiansya di Geranium Studio. Proses mixing dan mastering ditangani oleh Rizki Alfiansya, sementara artwork digarap oleh Arman. Seluruh materi kemudian mengalami berbagai penyempurnaan bersama King Masmus agar identitas musikal keduanya dapat menyatu secara utuh.
Tantangan terbesar dalam produksi datang dari keterbatasan waktu dan jarak. Kesempatan bertemu secara langsung sangat terbatas, sehingga setiap sesi harus dimanfaatkan secara maksimal, mulai dari penyusunan lirik, penyempurnaan aransemen, hingga proses rekaman.
Secara musikal, "Durian" juga menghadirkan pendekatan yang ringan dan mudah diingat melalui penggunaan frasa "Cetakcetingtong" sebagai pengisi bagian reff.
Frasa tersebut menjadi elemen khas yang memperkuat nuansa humor ala King Masmus sekaligus mempertahankan karakter Madame Whimpsy yang kerap
menyampaikan pesan-pesan penting melalui pendekatan yang santai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lebih dari sekadar lagu, "Durian" menjadi titik temu antara kampanye sosial, humor, identitas budaya, serta kecintaan terhadap potensi lokal Pasuruan. Melalui karya ini, Madame Whimpsy dan King Masmus berharap pendengar tidak hanya menikmati musiknya, tetapi juga menangkap pesan bahwa setiap perbedaan layak dihargai, serta bahwa kekayaan daerah seperti Durian Kasmin dari Lumbang patut memperoleh ruang yang sama besarnya dalam kebanggaan masyarakat Indonesia.
oridistro.com
www.instagram.com/p/DVyT_BaD-jP/
#Oridistro
#OridistroMedia
#YourCriminalPartners … See MoreSee Less
Ray Shabir mengumumkan single debutnya “Falling” yang rilis hari ini, 7 Agustus 2026. “Falling” adalah lagu pertama yang pernah dirilis Ray Shabir, namun bukan hal pertama yang pernah ia buat.
https://oridistro.com
https://n9.cl/yx5n5v
#RayShabir
#Oridistro
Showcase musik alternatif yang mempertemukan musisi, komunitas kreatif, dan kultur suburban akan digelar pada 29 Agustus 2026 di KeWaroeng Bintaro Jaya Sektor 9.
https://oridistro.com
https://n9.cl/qchafj
#SuburbanSessions
#Oridistro
“Buah Bibir” – Zakaria mengerjakan single ini di Eighteen Records Studio, dengan Tofan Angga sebagai produser. Single ini akan dirilis melalui label rekaman indie baru dari Probolinggo, Papaboch Records.
https://oridistro.com
https://n9.cl/r0ctl
#Zakaria
#Oridistro
Paruparo merilis single terbaru berjudul “Pancake Kisses”, sebuah lagu alternative rock dengan balutan melodi upbeat yang terdengar ceria di permukaan, namun menyimpan kisah yang jauh dari kata manis.
https://oridistro.com
https://n9.cl/7xskc
#Paruparo
#Oridistro
Trio alt-rock Georgia Querer merilis album penuh perdana mereka yang diberi judul “Elusive Things”, masih bersama label rekaman sekota, Tromagnon Records, di tanggal 7 Agustus 2026.
https://oridistro.com
https://n9.cl/9497qw
#GeorgiaQuerer
#Oridistro
Setelah “Gerilya Cinta” menceritakan tentang getaran jatuh cinta yang diam-diam menyusup ke hati, Kaleb J kini membuka babak berikutnya dalam EP “Tanda Cinta” lewat single kedua berjudul ‘I Found You’.
https://oridistro.com
https://n9.cl/rjr5pr
#KalebJ
#Oridistro
Contrecoup rilis album penuh “Nothing Feels Real” resmi disebarluaskan pada 12 Juni 2026. Ada 11 track di dalam album ini yang bernuansa modern pop punk, melodic punk, dan beberapa atmosfir elemen hardcore.
https://oridistro.com
https://n9.cl/z2tap
#Contrecoup
#Oridistro
Coba fitur PaperPay Out di dan dapatkan Free Paper Plus 3 Bulan (senilai Rp300rb)!
Gunakan kode referral dari @sembranix saat mendaftar: 6KFS7T9VF2
Daftar sekarang: http://get.paper.id/Pxn8r56
#Paper
#PaperID
#Sembrani
#SembraniProduction
Setelah sukses album perdananya Berdamai yang banyak berbicara tentang self healing & self love, Ghea Indrawari merilis album kedua yang bertajuk Rasi Bintang, yang resmi rilis disemua digital platform.
https://oridistro.com
https://n9.cl/jyy1a
#GheaIndrawari
#Oridistro
Band dream pop asal Indonesia, Drizzly, resmi merilis single terbaru mereka berjudul ‘how do i even try?’ pada Juli 2026.
https://oridistro.com
https://n9.cl/15f6ux
#Drizzly
#Oridistro
Band Rock asal Jakarta, Patras, akan menutup rangkaian tur debut album mereka “Cha Cha Boo!” melalui sebuah Homecoming Showcase bertajuk “Live at the Dungeon”.
https://oridistro.com
https://n9.cl/meawg
#Patras
#Oridistro
Pasca peluncuran single pembuka “Chiang Mai (CNX)”, kelompok musik yang mencap diri sebagai “Controlled-Chaos Power Trio” asal Jakarta, Mad Madmen, kini kembali dengan single kedua bertajuk “TAMAK”.
https://oridistro.com
https://n9.cl/wx6rzs
#MadMadmen
#Oridistro
Lewat lagu ‘Terlebih’, &BODEVAN mengajak para pendengar untuk merayakan kebersamaan, bermimpi bersama, merawat, dan menua bersama dengan pasangan yang kita cintai.
https://oridistro.com
https://n9.cl/s1q9w
#&BODEVAN
#Oridistro
Jakarta bukan hanya kota tujuan, tetapi juga tempat di mana banyak mimpi dimulai. Pengalaman itulah yang menjadi inspirasi Building, single terbaru dari Atlesta.
https://oridistro.com
https://n9.cl/l8csd
#Atlesta
#Oridistro
Setelah membangun dunia musikal mereka melalui “Am I Loving You Alone?” dan “Momentary Pleasure”, The Midnight Darlings masih terus menyapa industri musik Indonesia lewat “Semu”.
https://oridistro.com
https://n9.cl/057qw
#TheMidnightDarlings
#Oridistro
Menjelang *showcase* debut mereka di Nippon Budokan pada 31 Agustus, VIBY merilis “Gotcha”, sebuah lagu *dance* bernuansa musim panas yang dipersembahkan khusus untuk komunitas penggemar mereka, TOMO.
https://short.do/Wm_MwH
http://tiny.cc/qi28101
#Avex
#Oridistro
Di usia 14 tahun, musisi jazz asal Bali Jesse Adiputra memperkenalkan karya debutnya melalui interpretasi atas “Caravan”, salah satu jazz standard paling berpengaruh dalam sejarah musik jazz.
https://short.do/Wm_MwH
http://tiny.cc/qh28101
#JesseAdiputra
#Oridistro
Madame Whimpsy, akan merilis single kolaborasi bersama King Masmus bertajuk “Durian” pada 14 Agustus 2026 melalui DoggyHouse Records, label independen yang dikelola oleh grup legendaris Shaggydog.
https://short.do/Wm_MwH
http://tiny.cc/ah28101
#Oridistro
Di tengah padatnya jadwal para anggotanya—Eka Gustiwana serta Reza – grup musik elektropop ternama, Weird Genius, resmi mengakhiri masa hiatus mereka.
https://short.do/Wm_MwH
http://tiny.cc/lg28101
#WeirdGenius
#Oridistro
Clara Riva mempersembahkan single terbarunya, ‘Kenapa Ya?’, sebuah lagu yang menangkap rasa penasaran, ragu, dan salah tingkah ketika masa lalu kembali hadir.
https://short.do/Wm_MwH
http://tiny.cc/9nz7101
#ClaraRiva
#Oridistro
Penyanyi solo, Lusant, resmi memperkenalkan langkah pertamanya di industri musik Indonesia melalui single debut berjudul “Tak Pernah Jadi Rumah” yang akan dirilis di seluruh platform musik digital.
https://short.do/Wm_MwH
http://tiny.cc/5nz7101
#Lusant
#Oridistro

